Kinerja Keuangan BUMN Karya Tertekan Meski Utang Berhasil Direduksi, Apa Penyebabnya?
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya menunjukkan adanya upaya penurunan liabilitas atau utang selama kuartal I tahun 2025. Kendati demikian, kondisi ini dibarengi dengan penurunan kinerja keuangan pada beberapa perusahaan pelat merah tersebut.
Empat perusahaan BUMN Karya yang menjadi sorotan adalah PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Keempatnya masih bergulat dengan tantangan finansial yang cukup signifikan.
Direktur NEXT Indonesia, Herry Gunawan, yang juga pengamat BUMN, menyoroti bahwa BUMN Karya masih terjebak dalam praktik 'gali lubang-tutup lubang'. Defisit arus kas memaksa perusahaan-perusahaan ini untuk terus melakukan pinjaman demi menutupi biaya operasional.
Laporan keuangan kuartal I 2025 yang dipublikasikan di laman Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa PTPP, ADHI, WIKA, dan WSKT masih memiliki tingkat utang yang substansial.
- PT PP (Persero) Tbk (PTPP):
- Utang: Rp 41,1 triliun
- Penjualan dan pendapatan usaha: Turun dari Rp 4,6 triliun (Q1 2024) menjadi Rp 3,5 triliun (Q1 2025)
- Kontrak baru: Naik 32% secara tahunan menjadi Rp 6,275 triliun
- Laba bersih: Menyusut dari Rp 94,6 miliar menjadi Rp 59,38 miliar
- PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI):
- Utang: Rp 24,8 triliun (menurun dari Rp 25,3 triliun di periode sebelumnya)
- Penjualan dan pendapatan usaha: Turun dari Rp 2,6 triliun menjadi Rp 1,6 triliun
- Laba bersih: Merosot tajam dari Rp 10,15 miliar menjadi Rp 316 juta
- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA):
- Utang: Turun menjadi Rp 50,04 triliun dari Rp 51,6 triliun
- Kontrak baru: Menyusut menjadi Rp 2,16 triliun
- Laba kotor: Turun dari Rp 284 miliar menjadi Rp 231 miliar
- Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk: Rp 780,1 miliar (sekitar Rp 19,57 per saham)
- PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT):
- Utang: Rp 68,1 triliun (turun dari Rp 69,2 triliun di kuartal sebelumnya)
- Pendapatan usaha: Turun dari Rp 2,1 triliun menjadi Rp 1,3 triliun
- Rugi bersih: Membengkak menjadi Rp 1,24 triliun dari Rp 939,55 miliar
Kondisi keuangan yang kurang baik ini menjadi perhatian serius. Herry Gunawan berpendapat bahwa BUMN Karya saat ini sedang 'sakit', namun ia melihat peluang pemulihan melalui peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Danantara diharapkan dapat menjadi jembatan dalam negosiasi restrukturisasi utang antara BUMN Karya dan para kreditur. Herry menekankan pentingnya peran sentral Danantara dalam memperkuat kinerja BUMN Karya. Menurutnya, keterlibatan Danantara dalam negosiasi restrukturisasi utang dapat menjadi solusi jangka pendek yang efektif.
Saat ini, hanya PTPP dan ADHI yang masih aktif diperdagangkan di BEI. Perdagangan saham WIKA dan WSKT masih dalam status suspensi.
Data penutupan perdagangan Stockbit menunjukkan bahwa saham PTPP turun 4,41% menjadi Rp 390 per saham, meskipun secara mingguan naik 9,55%. Saham ADHI juga mengalami koreksi sebesar 5,48% menjadi Rp 276 per saham, namun menguat 7,81% dalam sepekan terakhir.
Head Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai bahwa kinerja keempat saham BUMN Karya tersebut mengindikasikan proses pemulihan yang sedang berjalan, meskipun belum stabil. Ia menganggap pembentukan Danantara sebagai langkah penting dalam transformasi sektor konstruksi BUMN.
Liza menyoroti beberapa potensi strategis dari pembentukan Danantara, di antaranya:
- Efisiensi sinergi: Penggabungan fungsi-fungsi yang tumpang tindih dapat menghasilkan efisiensi biaya skala besar.
- Pengelolaan proyek terarah: Struktur holding yang terintegrasi memungkinkan pengelolaan proyek dan prioritas investasi yang lebih terarah.
- Akses pendanaan lebih murah: Peningkatan rating kredit grup berpotensi membuka peluang pendanaan yang lebih murah dari pasar modal, perbankan, maupun mitra strategis.
- Katalis positif bagi investor: Dengan portofolio proyek strategis nasional, Danantara dapat menarik investor jangka panjang ke proyek-proyek infrastruktur Indonesia.
Liza menekankan bahwa BUMN Karya masih dalam masa transisi menuju entitas yang lebih berorientasi pada nilai (value-driven) daripada sekadar volume. Proses ini membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan fiskal yang bijak.
Senior Technical Analyst di Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menambahkan bahwa prospek saham BUMN Karya masih terbuka di bawah kelolaan Danantara. Ia menekankan pentingnya tata kelola dan efisiensi untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menyatakan bahwa harga saham ADHI dan PTPP sempat mencapai titik tertinggi saat pengumuman rencana pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menilai pergerakan harga saham keduanya dapat diprediksi seiring dengan kelanjutan pembangunan proyek strategis nasional (PSN).