Inspirasi dari Bali: Guru SD Mengajak Siswa Mencintai Alam Melalui Pelukan Pohon dan Konservasi Air

Di tengah isu lingkungan yang semakin mendesak, seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Bali, Osila, mengambil langkah nyata untuk menanamkan kecintaan dan kesadaran lingkungan pada murid-muridnya. Menyaksikan perubahan drastis pada lingkungan masa kecilnya, dari sungai yang jernih menjadi kering kerontang, Osila tergerak untuk bertindak.

Terinspirasi dari filosofi Tri Hita Karana, konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, Osila mengembangkan metode pembelajaran unik. Ia tidak hanya memberikan pelajaran di dalam kelas, tetapi juga mengajak murid-muridnya untuk berinteraksi langsung dengan alam. Salah satu program unggulannya adalah "Taman Hujan," sebuah inisiatif yang mengenalkan konservasi air melalui pembuatan sumur resapan. Program ini didukung oleh IDEP Foundation.

Lebih dari sekadar konservasi air, Osila juga memperkenalkan konsep forest bathing atau terapi hutan kepada anak didiknya. Terinspirasi dari praktik di Jepang, forest bathing mengajak individu untuk menyelaraskan diri dengan energi positif yang ada di hutan, salah satunya dengan memeluk pohon.

"Hutan memberikan oksigen yang kadarnya sangat bagus untuk mengurangi stres dalam tubuh. Cara ini sangat efektif," jelas Osila.

Program-program yang diinisiasi oleh Osila mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Banyak yang tergerak untuk membantu, mulai dari menyumbangkan bibit pohon hingga terlibat langsung dalam kegiatan penanaman. Osila sendiri memilih jenis pohon yang kurang bernilai ekonomis, seperti beringin, kepuh, dan ketapang, yang dianggap sakral di Bali. Tujuannya adalah agar pohon-pohon tersebut tidak mudah ditebang dan dapat terus menjaga sumber air di desa.

Osila menyadari bahwa upaya pelestarian lingkungan membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. Ia berharap dapat terus mengembangkan program-programnya dan mewujudkan impiannya untuk membangun sebuah hub di tengah hutan, lengkap dengan perpustakaan dan fasilitas pelatihan pembibitan pohon. Ia melihat bahwa anak-anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget mereka. Dengan adanya hub tersebut, diharapkan mereka dapat berkumpul, membaca buku, membuat bibit pohon lokal, dan menanam pohon sendiri.

"Di tengah gempuran pesatnya pariwisata Bali, semakin banyaknya beton, krisis air, kita yang masih ada di desa dengan alam yang asri, mari jaga alam dan air," ajak Osila dengan penuh semangat.

Inisiatif Osila adalah contoh nyata bagaimana pendidikan dan kecintaan terhadap alam dapat disatukan untuk menciptakan generasi penerus yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Upayanya ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk turut serta menjaga kelestarian alam demi masa depan yang lebih baik.

Aktivitas yang dilakukan Osila:

  • Membuat program Taman Hujan
  • Melakukan aktivitas forest bathing
  • Menanam pohon yang kurang bernilai ekonomis
  • Membuat hub di tengah hutan