Krisis Kemanusiaan di Gaza Memburuk Akibat Blokade dan Serangan Israel
Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan setelah hampir 19 bulan konflik berkecamuk. Warga sipil menghadapi kekurangan sumber daya yang semakin parah dan hidup dalam ketidakpastian akan masa depan mereka. Blokade yang diberlakukan Israel terhadap bantuan kemanusiaan dan pasokan komersial telah berlangsung selama dua bulan, sementara serangan udara terus berlanjut di seluruh wilayah Gaza.
Seorang warga Gaza, Ahmad Qattawi, menggambarkan situasi yang dihadapi oleh penduduk setempat sebagai "tragedi" dan perjuangan untuk bertahan hidup di tengah ketakutan akan serangan bom dan kesulitan mendapatkan makanan yang cukup. Lembaga-lembaga bantuan secara konsisten memperingatkan tentang meningkatnya risiko kekurangan gizi dan kelaparan akibat penutupan toko roti, melonjaknya harga bahan makanan pokok, dan pembatasan perbatasan yang berkelanjutan.
Direktur Jaringan Organisasi Nonpemerintah Palestina (PNGO), Amjad Shawa, menggambarkan situasi di Gaza sebagai "bencana" dan mengatakan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi warga sipil karena serangan udara dan artileri. Ia juga menyatakan keprihatinannya atas ketidakmampuan pekerja kemanusiaan untuk memberikan bantuan yang memadai kepada mereka yang membutuhkan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa sistem layanan kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran, kewalahan menangani korban massal, dan sangat terhambat oleh blokade total yang memutus pasokan obat-obatan penting, vaksin, dan peralatan medis. Badan Pangan Dunia (WFP) mengumumkan bahwa stok makanan mereka untuk Gaza telah habis dan mendistribusikan sisa persediaan terakhir ke dapur umum dan toko roti.
Warga Gaza juga menghadapi kesulitan dalam mencari kayu bakar untuk memasak, karena sebagian besar pohon telah ditebang atau hancur akibat pengeboman. Banyak yang mengambil risiko memasuki bangunan-bangunan yang hancur untuk menyelamatkan kayu atau barang-barang lainnya. Gencatan senjata yang dimulai pada Januari 2025 sempat memberikan sedikit kelegaan bagi warga Gaza, tetapi situasi kembali memburuk ketika Israel melanjutkan serangan pada 18 Maret 2025, setelah fase pertama kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera berakhir.
Pemerintah Israel telah memerintahkan penutupan semua penyeberangan perbatasan dan menghentikan semua pengiriman bantuan kemanusiaan dan komersial ke Gaza. Tindakan ini merupakan bagian dari strategi "tekanan maksimum" untuk memaksa Hamas membebaskan sisa sandera dan menggulingkan kelompok militan Palestina tersebut. Pejabat Israel menuduh Hamas mencuri bantuan kemanusiaan dan menggunakannya untuk kepentingan mereka sendiri. Hamas menolak semua tuntutan pelucutan senjata dan bersikeras pada kesepakatan yang menjamin berakhirnya perang.
Sejumlah lembaga bantuan dan PBB menuduh Israel menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai alat politik, yang berpotensi menjadi kejahatan perang. Wakil Sekretaris Jenderal PBB bidang Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, mengingatkan Israel bahwa sebagai kekuatan pendudukan, mereka wajib mengizinkan akses bantuan kemanusiaan.
Militer Israel secara terus menerus membuat warga mengungsi hingga membentuk zona penyangga besar di utara, perbatasan timur, serta selatan, yang berakibat pada hilangnya akses warga Palestina ke lahan pertanian paling subur di Gaza. Warga Gaza juga melaporkan adanya insiden penjarahan gudang serta suasana mencekam dan keamanan internal yang rapuh selama serangan Israel.
OCHA melaporkan bahwa serangan baru-baru ini menghantam gedung permukiman dan tenda pengungsian, terutama di Rafah dan Gaza Timur. Lebih dari 423.000 orang di Gaza kembali mengungsi tanpa adanya tempat aman. Seorang warga Gaza, Mahmoud Hassouna, mengungkapkan harapannya untuk tidak lagi mengungsi dan agar perang mengerikan ini segera berakhir.
Berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi warga Gaza:
- Kekurangan makanan dan air
- Harga bahan pokok yang melambung tinggi
- Keterbatasan akses ke layanan kesehatan
- Kurangnya tempat tinggal yang aman
- Ketakutan akan kekerasan dan kematian
Situasi di Gaza sangat mengerikan dan membutuhkan perhatian segera dari komunitas internasional. Penting untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan mencapai mereka yang membutuhkan dan bahwa langkah-langkah diambil untuk mengakhiri konflik dan melindungi warga sipil.