Pelemahan Daya Beli Jelang Ramadan: Tabungan Menipis, THR Tak Mampu Menopang Konsumsi
Pelemahan Daya Beli Jelang Ramadan: Tabungan Menipis, THR Tak Mampu Menopang Konsumsi
Tren belanja masyarakat Indonesia menjelang Ramadan tahun ini menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Riset terbaru menunjukkan daya beli masyarakat, khususnya di kalangan bawah, melemah akibat pengurangan tabungan yang signifikan. Fenomena ini terakhir terlihat pada awal pandemi Covid-19 di tahun 2020, menandai sebuah tren yang mengkhawatirkan bagi perekonomian domestik. Sektor ritel mengalami dampak langsung dari penurunan ini, dengan hampir 40% belanja konsumen terfokus pada kebutuhan pokok.
Pengamat ekonomi senior dari INDEF, Tauhid Ahmad, mencatat penurunan ini secara detail. Meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi bulan ke bulan (mtm) pada Maret 2025, pertumbuhan tahun ke tahun (yoy) justru mengalami perlambatan. Sektor non-pangan, seperti sandang, juga menunjukkan pertumbuhan yang lesu. “Pertumbuhan positif memang ada, namun tidak signifikan. Angka-angka pertumbuhan tidak menunjukkan peningkatan yang drastis. Secara yoy, terjadi perlambatan, namun mtm menunjukkan perbaikan. Masyarakat mungkin mulai mempersiapkan kebutuhan Lebaran, tetapi dengan anggaran dan harga yang lebih terjangkau,” jelas Tauhid dalam wawancara telepon.
Tauhid lebih lanjut menjelaskan bahwa penurunan daya beli ini erat kaitannya dengan menipisnya tabungan masyarakat. Banyak masyarakat yang terpaksa menguras tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebuah fenomena yang disebut 'makan tabungan' atau 'mantab'. “Data indeks simpanan menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Masyarakat benar-benar berada dalam situasi 'mantab’,” tegasnya. Hal ini berdampak langsung pada penurunan konsumsi. “Jika tabungan naik, konsumsi dan investasi juga cenderung naik. Namun, jika tabungan turun, konsumsi ikut menurun. Itulah situasi yang kita hadapi saat ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tauhid menjelaskan bahwa THR, yang biasanya menjadi suntikan dana bagi masyarakat, tidak banyak membantu meningkatkan daya beli. Sebagian besar THR cenderung digunakan untuk kebutuhan Lebaran, bukan untuk menabung atau berinvestasi. “Kebiasaan menabung masyarakat Indonesia umumnya terjadi pada Juni-Juli untuk persiapan sekolah. THR lebih sering digunakan untuk keperluan Lebaran. Jika THR kurang atau bahkan tidak ada, masyarakat terpaksa menggunakan tabungan yang telah mereka kumpulkan sebelumnya,” ujarnya.
Perbandingan dengan Ramadan tahun lalu juga menunjukkan perbedaan yang signifikan. Tahun lalu, bertepatan dengan pemilu, mengakibatkan peningkatan konsumsi masyarakat karena adanya berbagai program bantuan sosial. “Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Tidak ada euforia pemilu dan program bansos yang memicu peningkatan konsumsi. Stimulus ekonomi terhadap sektor konsumsi pun berkurang,” ungkap Tauhid. Ia menambahkan bahwa tren pertumbuhan ekonomi cenderung lebih rendah pada kuartal pertama tahun ini (Januari-Maret), namun diprediksi akan meningkat pada kuartal kedua (April-Juni) seiring dengan meningkatnya pengeluaran menjelang dan selama Lebaran.
Kesimpulannya, melemahnya daya beli masyarakat menjelang Ramadan 2025 merupakan dampak kompleks dari berbagai faktor, terutama menipisnya tabungan dan pola konsumsi masyarakat yang cenderung konsumtif, khususnya menjelang hari raya. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi ekonomi yang lebih efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat di masa mendatang.