Trump Jajaki Kolaborasi dengan Erdogan untuk Akhiri Konflik Rusia-Ukraina

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dalam upaya mengakhiri konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina. Pernyataan ini muncul setelah keduanya melakukan percakapan melalui saluran telepon, membahas berbagai isu geopolitik krusial.

Trump, melalui platform media sosial Truth Social, mengungkapkan bahwa Erdogan mengundangnya untuk berkunjung ke Turki. Sebagai respon, Trump juga berencana untuk mengundang Erdogan ke Washington, sebagai bentuk timbal balik. "Saya sangat antusias untuk bekerja sama dengan Presiden Erdogan dalam mengakhiri perang yang tidak masuk akal dan mematikan antara Rusia dan Ukraina – segera!," tulis Trump, seperti dilansir dari AFP.

Trump, yang sebelumnya berjanji akan mengakhiri perang Ukraina dalam waktu 24 jam setelah menjabat, kembali menekankan pentingnya mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Kyiv dan Moskow. Turki, sebagai anggota NATO, memainkan peran penting dalam menjaga hubungan baik dengan kedua negara yang berbatasan dengan Laut Hitam tersebut. Ankara juga telah dua kali menjadi tuan rumah perundingan yang bertujuan untuk mengakhiri konflik.

Selain membahas Ukraina, kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai situasi di Suriah dan Gaza. Trump menggambarkan percakapan teleponnya dengan Erdogan sebagai sesuatu yang produktif. Ia menyoroti hubungan baik yang terjalin antara dirinya dan Erdogan selama masa jabatannya sebagai Presiden AS dari tahun 2017 hingga 2021.

Kantor Kepresidenan Turki menyatakan bahwa Erdogan menyampaikan kepada Trump bahwa upaya AS untuk meringankan sanksi terhadap Suriah akan berkontribusi pada stabilisasi negara yang dilanda perang tersebut. Washington, di sisi lain, menyatakan bahwa normalisasi atau pencabutan sanksi akan bergantung pada kemajuan yang dapat diverifikasi oleh otoritas baru Suriah, termasuk tindakan melawan "teror." Erdogan juga menyampaikan apresiasinya kepada Trump atas "pendekatannya untuk mengakhiri perang," dengan menyinggung Ukraina, Gaza, dan negosiasi tentang Iran.

Secara khusus, Erdogan mengangkat isu Jalur Gaza yang tengah dilanda konflik. Ia menekankan kepada Trump bahwa bantuan kemanusiaan harus "dikirim ke Gaza tanpa gangguan." Percakapan ini mengindikasikan potensi peran aktif yang akan dimainkan oleh Trump, bekerja sama dengan Erdogan, dalam upaya meredakan ketegangan global dan mencari solusi damai untuk berbagai konflik yang sedang berlangsung.

Poin-poin utama yang dibahas dalam percakapan tersebut meliputi:

  • Upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
  • Situasi di Suriah dan pentingnya stabilisasi.
  • Kebutuhan mendesak akan bantuan kemanusiaan di Gaza.
  • Negosiasi terkait dengan Iran.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa Trump berpotensi kembali ke panggung diplomasi internasional, berkolaborasi dengan pemimpin dunia lainnya untuk mengatasi tantangan global yang kompleks.