Prabowo Menepis Isu Kendali Jokowi dalam Pemerintahan
Isu tentang pengaruh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencuat beberapa waktu lalu. Menanggapi hal tersebut, Prabowo dengan tegas membantah anggapan bahwa dirinya adalah "presiden boneka" yang dikendalikan oleh Jokowi.
"Saya dibilang presiden boneka, dikendalikan Pak Jokowi. Seolah-olah Pak Jokowi tiap malam telepon saya. Saya katakan itu tidak benar," ujar Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden.
Prabowo mengakui bahwa dirinya memang sering meminta masukan dan berkonsultasi dengan Jokowi, mengingat pengalaman Jokowi selama 10 tahun memimpin Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa konsultasi tersebut tidak terbatas pada Jokowi saja. Prabowo juga membuka diri untuk menerima saran dan pendapat dari mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.
"Saya menghadap beliau (Jokowi) tidak ada masalah, saya menghadap Pak SBY tidak ada masalah, saya menghadap Ibu Mega tidak ada masalah," kata Prabowo.
Bahkan, Prabowo menyatakan keinginannya untuk dapat berdiskusi dengan mantan presiden lainnya seperti Soekarno, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), jika memungkinkan.
Selain itu, Prabowo juga memberikan pujian atas kinerja dan prestasi Jokowi selama menjabat sebagai kepala negara, terutama dalam menjaga inflasi di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pujian tersebut objektif dan bukan karena kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, di sampingnya.
"Ini prestasi. Dan saya harus katakan. Jujur ini. Bukan karena Mas Gibran ada di sebelah saya, bukan. Ini objektif. Ini salah satu hasil daripada kepemimpinan dan manajemen Pak Jokowi," ungkap Prabowo.
Prabowo berpendapat bahwa keberhasilan Jokowi dalam mengendalikan inflasi didasari oleh pengalamannya sebagai Wali Kota Solo, yang memungkinkannya memahami cara menghadapi inflasi tanpa harus melalui pendidikan formal di universitas ternama.
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai bahwa bantahan Prabowo sudah tepat. Menurutnya, komunikasi dan pujian Prabowo kepada presiden terdahulu, termasuk Jokowi, merupakan bentuk ungkapan terima kasih atas jasa-jasa mereka.
Sebelumnya, Jokowi juga telah menegaskan bahwa tidak ada "matahari kembar" dalam pemerintahan saat ini. Menurutnya, hanya ada satu pemimpin negara, yaitu Presiden Prabowo Subianto.
"Kan sudah saya sampaikan bolak-balik, tidak ada matahari kembar, matahari itu hanya satu, yaitu Presiden Prabowo Subianto," kata Jokowi.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi juga menyatakan hal senada, bahwa tidak ada dualisme kepemimpinan dalam pemerintahan Prabowo.
Isu "matahari kembar" ini muncul setelah sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo saat Lebaran. Bahkan, beberapa menteri menyebut Jokowi dengan sebutan "bos".
Di sisi lain, Prabowo juga kerap mengundang Jokowi dan SBY dalam acara peresmian proyek pemerintah, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka. Contohnya, saat peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), SBY dan Jokowi turut hadir.
Prabowo juga meminta Sekretaris Kabinet (Seskab) untuk mengundang Jokowi setiap kali dirinya meresmikan proyek-proyek warisan Jokowi. Salah satu proyek warisan Jokowi yang diresmikan Prabowo adalah bank emas, yang persiapannya telah dilakukan sejak empat tahun lalu.