Perjalanan Spiritual Biksu Thudong: Simbol Toleransi Bersemi di Kendal

Puluhan biksu yang tengah menjalankan ritual Thudong, sebuah perjalanan spiritual jalan kaki dari Bangkok menuju Candi Borobudur, disambut hangat di Kendal, Jawa Tengah. Rombongan yang terdiri dari 36 biksu ini memilih Gereja Santo Antonius Padua sebagai tempat peristirahatan sementara, menandai sebuah momen indah toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Beng Ann, seorang biksu asal Malaysia, tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan syukurnya atas sambutan hangat yang diterimanya. Menurutnya, keramahan masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta, menjadi sumber kekuatan baginya dan rombongan untuk terus melanjutkan perjalanan panjang ini. Ia mengungkapkan bahwa Gereja Santo Antonius Padua menjadi simbol nyata bagaimana perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan secara harmonis.

Perjalanan Thudong ini bukan tanpa tantangan. Lecet di kaki, sesak napas, bahkan muntah darah sempat dialami oleh beberapa biksu. Namun, semangat mereka untuk mencapai Borobudur, tempat perayaan Hari Raya Waisak, tak pernah padam. Dengan tekad yang kuat, mereka terus melangkah, beristirahat sejenak ketika dibutuhkan, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Prabudias, penanggung jawab perjalanan Thudong, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak Gereja Santo Antonius Padua yang telah bersedia menampung mereka. Ia juga menginformasikan bahwa setelah beristirahat di Kendal, rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju Semarang, di mana mereka akan bermalam di Klenteng Takeshi. Selain itu, mereka juga akan disambut oleh pengurus pondok pesantren budaya di Kaliwungu, Kendal.

Romo Yohanes Wegik Heri Purnomo, kepala Gereja Santo Antonius Padua Kendal, menyambut kedatangan para biksu dengan sukacita. Ia menyatakan bahwa ini adalah kali kedua gerejanya menjadi tempat persinggahan para biksu Thudong, setelah sebelumnya pada tahun 2023. Pihak gereja telah menyiapkan segala kebutuhan para biksu, mulai dari tempat tidur yang nyaman, fasilitas mandi yang bersih, hingga makanan yang bergizi. Romo Wegik menegaskan bahwa tindakan ini merupakan wujud nyata dari toleransi dan persaudaraan antarumat beragama.

Perjalanan Thudong ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sebuah pesan tentang pentingnya toleransi, persatuan, dan semangat pantang menyerah. Sambutan hangat yang diterima para biksu di Indonesia, khususnya di Kendal, menjadi bukti bahwa nilai-nilai luhur ini masih hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat.