Harapan Tak Lekang oleh Usia: Perjuangan Adi Mencari Nafkah di Bursa Kerja Jakarta

Di tengah hiruk pikuk Job Fair Jakarta 2024, seorang pria bernama Adi, 50 tahun, asal Keramat Pulo, Bekasi, tampak menonjol. Bukan karena penampilannya yang istimewa, melainkan karena semangatnya yang membara di usia yang tak lagi muda.

Adi, seorang ayah dan kakek, datang ke bursa kerja dengan harapan besar. Setelah bertahun-tahun berkarir di industri perhotelan, ia terpaksa kehilangan pekerjaannya akibat pandemi Covid-19. Pengalaman selama 26 tahun sebagai Skipping Supervisor di sebuah hotel ternama seolah tak berarti ketika gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda.

"Saya sudah 50 tahun, dan sudah lama menganggur. Jadi, saya coba peruntungan lagi di sini," ujar Adi dengan nada penuh optimisme.

Pandemi memang memukul keras sektor pariwisata, termasuk perhotelan. Banyak karyawan dirumahkan, bahkan di PHK. Adi menjadi salah satu korbannya. Meski sempat mencoba peruntungan dengan membuka usaha travel umrah dan haji, hasilnya belum mampu menutupi kebutuhan keluarga.

"Sempat memberangkatkan jemaah Januari lalu, tapi saya butuh penghasilan yang lebih stabil," jelasnya.

Di Job Fair Jakarta, Adi menyadari tantangan yang dihadapinya. Banyak perusahaan yang membuka lowongan dengan batasan usia maksimal 30 tahun. Hal ini membuatnya sedikit pesimis, namun tak lantas memadamkan semangatnya.

"Seharusnya ada kesempatan juga untuk usia di atas 40 atau 50 tahun. Kami masih sanggup bekerja dan berkontribusi," tegas Adi.

Adi juga sempat mempertimbangkan untuk melamar sebagai petugas PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum). Namun, niatnya terbentur oleh persyaratan administratif yang rumit dan berbiaya.

"Syaratnya rumit, harus tes narkoba dan itu butuh biaya. Seharusnya dipermudah," keluhnya.

Meski demikian, Adi tak menyerah. Ia terus mencari informasi lowongan kerja, berharap ada perusahaan yang mau memberinya kesempatan. Ia percaya bahwa pengalaman dan kemampuannya masih bisa dimanfaatkan.

Dengan cucu yang menanti di rumah, serta anak dan istri yang berharap ia segera mendapatkan pekerjaan, Adi terus berjuang. Ia adalah potret seorang pekerja keras yang tak kenal lelah, seorang ayah yang bertanggung jawab, dan seorang kakek yang penuh kasih sayang.

Kisah Adi adalah cerminan dari realitas yang dihadapi banyak pekerja berusia di atas 40 tahun di Indonesia. Diskriminasi usia dalam rekrutmen masih menjadi masalah serius yang perlu diatasi. Perusahaan-perusahaan seharusnya lebih terbuka untuk memberikan kesempatan kepada pekerja yang lebih tua, karena mereka memiliki pengalaman dan kematangan yang berharga.

Adi terus berharap, di tengah persaingan ketat di bursa kerja, ada pintu yang terbuka untuknya. Ia percaya bahwa dengan semangat dan kerja keras, ia akan mampu menghidupi keluarganya dan memberikan yang terbaik bagi mereka.