Revisi Target IHSG: Mirae Asset Sekuritas Prediksi Penurunan ke Level 6.900
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk tahun 2025, menurunkan proyeksi dari 8.000 menjadi 6.900. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika perekonomian Indonesia dan ketidakpastian yang terus berlanjut di kancah global.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa level IHSG saat ini dianggap sudah cukup tinggi. Ia menyarankan investor untuk mempertimbangkan profit taking ketika kondisi memungkinkan.
"Revisi target IHSG ini cukup signifikan, dari 8.000 menjadi 6.900. Kami melihat bahwa posisi IHSG saat ini sudah relatif tinggi," ujarnya.
Revisi ini mencerminkan proyeksi yang lebih konservatif terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. Mirae Sekuritas merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,75 persen untuk akhir tahun, dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,03 persen. Angka ini menjadi proyeksi pertumbuhan ekonomi terendah sejak pandemi Covid-19 dan lebih rendah dari tahun 2019, saat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga memberikan tekanan pada perekonomian global.
"Dampaknya akan terasa lebih cepat, dan kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 4,75 persen. Semua komponen pengeluaran akan mengalami pertumbuhan yang lebih moderat," imbuhnya.
Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025, Rully memperkirakan bahwa konsumsi rumah tangga akan tetap tumbuh di atas ekspektasi. Namun, belanja pemerintah diperkirakan akan lebih rendah dari yang diproyeksikan oleh Mirae Sekuritas.
Tingkat investasi yang masuk ke Indonesia juga diperkirakan akan lebih rendah dari target yang ditetapkan Mirae Asset. Realisasi investasi pada kuartal I-2025 dinilai masih rendah, di bawah 3 persen. Hal ini disebabkan oleh investor yang masih menunggu kepastian di awal periode pemerintahan yang baru.
"Melihat kondisi global saat ini, saya memperkirakan bahwa tingkat investasi akan tetap rendah," jelasnya. Kondisi ini juga didukung oleh permintaan domestik yang cenderung melandai dan kondisi cuaca yang lebih stabil.
"Mungkin akan stabil di rentang yang diperkirakan oleh Bank Indonesia (BI)," tambahnya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini berada di kisaran 16.400 dianggap sebagai titik keseimbangan jangka pendek. Namun, ke depan, Rully memprediksi bahwa rupiah akan menghadapi tekanan dan berpotensi kembali ke level 16.700-16.800.
Beberapa saham yang direkomendasikan oleh Mirae Asset Sekuritas untuk menjadi pertimbangan investor antara lain:
- BBCA
- BMRI
- ICBP
- ANTM