Danantara Berpotensi Kelola Tanah Terlantar Negara: Diskusi Intensif Digelar
markdown Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) tengah menjajaki potensi pengelolaan tanah terlantar milik negara oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, mengungkapkan bahwa rencana ini telah dibahas secara mendalam bersama CEO Danantara, Rosan Roeslani.
Fokus utama diskusi adalah aset tanah yang saat ini berada di bawah pengelolaan Badan Bank Tanah. "Aset Bank Tanah inilah yang sedang kami diskusikan. Apakah memungkinkan untuk dikonsolidasikan ke dalam Danantara? Ini masih dalam tahap diskusi," ujar Nusron usai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Nusron menjelaskan bahwa tanah-tanah yang dikategorikan terlantar ini sebelumnya merupakan tanah negara yang dikonsesikan kepada berbagai pihak. Namun, karena konsesi tersebut tidak diperpanjang, tanah-tanah tersebut kemudian masuk kategori terlantar dan dialihkan pengelolaannya kepada Badan Bank Tanah.
"Kami sedang meninjau kembali tanah-tanah yang pernah dikonsesikan, namun masa berlakunya sudah habis dan tidak diperpanjang. Tanah-tanah inilah yang kemudian diserahkan kepada Bank Tanah sebagai tanah terlantar," jelasnya.
Meskipun demikian, Nusron enggan menyebutkan secara spesifik luas lahan terlantar negara yang berpotensi diserahkan kepada Danantara. Ia menegaskan bahwa keputusan final masih menunggu hasil kajian dan diskusi yang lebih mendalam.
"Semuanya masih dalam tahap kajian. Kami akan meninjau kembali semua data dan informasi terkait tanah-tanah tersebut sebelum mengambil keputusan," imbuhnya.
Sebagai informasi, Badan Bank Tanah saat ini mengelola aset tanah seluas 40.000 hektare. Aset ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai proyek strategis, mulai dari lahan pangan, kawasan industri, perumahan, hingga pembangkit energi.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengungkapkan bahwa total aset Danantara saat ini mencapai US$ 982 miliar atau sekitar Rp 16.118 triliun (dengan kurs Rp 16.420). Dengan tambahan aset dari Kompleks GBK dan Kemayoran, nilai aset Danantara diperkirakan akan melampaui US$ 1,04 triliun atau sekitar Rp 17.076 triliun.
"Aset di Kompleks GBK, menurut perhitungan pengusaha, nilainya mencapai US$ 25 miliar sepuluh tahun lalu. Sekarang mungkin sudah meningkat menjadi US$ 30 miliar. Ditambah lagi dengan lahan di Kemayoran seluas lebih dari 400 hektare, yang mungkin bernilai US$ 40 miliar. Aset-aset ini akan kita serahkan untuk dikelola oleh Danantara. Jadi, totalnya mungkin sudah mencapai US$ 1,04 triliun. Belum lagi aset-aset lain di seluruh Indonesia," kata Presiden Prabowo.