Rupiah Tertekan: Bank Indonesia Ungkap Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Rupiah Tertekan: Bank Indonesia Ungkap Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan, dengan Dolar AS mendekati level Rp 16.500 pada perdagangan hari ini. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa pada pukul 09.10, Dolar AS menguat 44 poin atau 0,27% menjadi Rp 16.493. Pembukaan perdagangan sebelumnya mencatat nilai Dolar AS pada Rp 16.461.

Bank Indonesia (BI) melalui Kepala Departemen Pengelolaan Moneter & Aset Sekuritas (DPMA), Erwin Gunawan Hutapea, memberikan penjelasan terkait kondisi ini. Menurutnya, pelemahan Rupiah dipicu oleh berbagai sentimen pasar, termasuk kekhawatiran terhadap perang dagang global dan ketegangan geopolitik antara India dan Pakistan. Faktor-faktor eksternal ini memberikan tekanan signifikan pada mata uang Garuda.

Erwin Hutapea menyampaikan bahwa dengan kondisi pasar yang ada, Rupiah diperkirakan akan sulit untuk kembali ke level Rp 16.400 per Dolar AS dalam waktu dekat. Sebelumnya, Rupiah sempat menyentuh angka Rp 16.420 per Dolar AS. "Nilai tukar kita sempat bergerak di bawah Rp 16.500, terendah itu sempat di Rp 16.420, meskipun kelihatannya untuk turun ke bawah Rp 16.400 itu kelihatannya supportnya cukup strong, selalu kembali seperti semula dan hari ini kan kita lihat bergerak kan itu di Rp 16.500-an," ujarnya dalam acara Efektivitas Kebijakan Moneter Pro-market untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah di Kantor BI, Jakarta.

Di sisi lain, Erwin menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 yang mencapai 4,87%. Angka ini, meskipun di bawah ekspektasi pasar sebesar 4,92%, masih dianggap cukup tinggi oleh investor. "Meskipun rilis kemarin Q 1 kelihatannya di bawah konsensus pelaku pasar, di mana konsensus pelaku pasar kita ada di 4.92%, kejadiannya di 4.87%. Tapi 4.87% still high enough ya bagi investor," katanya.

Selain itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal ini tercermin dari hasil lelang SBN terakhir, di mana partisipasi investor asing cukup signifikan. "Jadi ini tanda-tanda yang benar-benar menurut hemat kami, kepercayaan investor sudah mulai kembali, dengan kita bagaimana upaya kita melakukan menjaga agar supply instrument tetap ada, dengan stabilitas dalam konteks nilai tukar dan kecukupan rupiah tersebut tetap berada di pasar," jelas Erwin.

Sebelumnya pada hari Senin, nilai tukar Dolar AS sempat melemah terhadap Rupiah dan berada di level Rp 16.430. Data Bloomberg mencatat penurunan sebesar 7 poin atau 0,04%.

Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar global dan domestik serta berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui berbagai kebijakan moneter yang pro-pasar. Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga terus dilakukan untuk memastikan stabilitas ekonomi makro dan menjaga kepercayaan investor.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar Rupiah:

  • Sentimen pasar terhadap perang dagang global
  • Ketegangan geopolitik antara India dan Pakistan
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia
  • Kondisi pasar Surat Berharga Negara (SBN)
  • Kebijakan moneter Bank Indonesia