Efek Dedi Mulyadi: Anak-anak di Media Sosial Gentar dengan Ancaman 'Penjemputan'
Gelombang perbincangan melanda jagat media sosial belakangan ini. Sebuah fenomena unik muncul, di mana anak-anak menunjukkan rasa takut yang signifikan terhadap sosok Dedi Mulyadi. Pemicunya adalah narasi yang beredar, bahwa Dedi Mulyadi akan 'menjemput' mereka jika tidak mematuhi nasihat orang tua.
Kecemasan ini berakar dari video yang menampilkan Dedi Mulyadi, yang dalam pesannya seolah-olah memperingatkan anak-anak tentang konsekuensi membangkang. Video tersebut, yang diunggah di akun Instagram pribadi Dedi Mulyadi, @dedimulyadi71, berisi imbauan bernada ancaman bagi anak-anak yang enggan mandi, makan, tidur teratur, bangun pagi, bersekolah, atau terus-menerus jajan. Dedi Mulyadi menyatakan bahwa jika anak-anak tersebut melawan atau tidak patuh pada orang tua, ia akan datang langsung untuk 'menjemput' mereka.
Dalam video itu, Dedi Mulyadi memberikan ultimatum: patuh kepada orang tua atau dibawa ke barak militer. Bahkan, Dedi Mulyadi mengunggah ulang video seorang anak yang tampak ketakutan setelah menyaksikan peringatan tersebut, dengan keterangan yang menyebutnya sebagai "Tips #Parenting paling up to date. Awalnya takut, akhirnya manggut-manggut."
Fenomena ini bermula dari kebijakan kontroversial Dedi Mulyadi, yang mengirim siswa-siswi Jawa Barat yang bermasalah ke barak militer. Program yang diluncurkan pada Hari Pendidikan Nasional ini bertujuan membina siswa yang dianggap "nakal" atau berperilaku menyimpang selama enam bulan. Awalnya, program ini diterapkan di Kabupaten Purwakarta dan Kota Bandung.
Respon terhadap program ini beragam. Wali Kota Depok, Supian Suri, menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi program serupa di wilayahnya, dengan alasan ketersediaan infrastruktur pendukung seperti markas Brimob dan Kostrad. Ia meyakini program ini dapat menjadi solusi bagi orang tua yang kesulitan mengatasi perilaku anak. Senada dengan itu, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, telah menyiapkan dua lokasi pendidikan militer, yakni Batalyon Infanteri Mekanis 202/Tajimalela dan Batalyon Armed 7/155 GS. Tri Adhianto menekankan pentingnya pembentukan mental dan semangat kebangsaan melalui program ini, namun juga menyoroti perlunya evaluasi untuk mengukur efektivitasnya.
Reaksi di media sosial pun beragam. Ada yang mendukung pendekatan Dedi Mulyadi sebagai solusi untuk mendisiplinkan anak, namun tak sedikit pula yang mengkritiknya karena dianggap menggunakan pendekatan yang menakut-nakuti dan berpotensi menimbulkan trauma pada anak.
Kontroversi seputar fenomena ini terus bergulir, memicu perdebatan tentang metode pendidikan yang efektif dan etis bagi generasi muda.