Inovasi Polwan Sulsel: Meja Tanpa Laci Berantas Pungli di Pelayanan Publik

Polwan Sulsel Pelopor Meja Tanpa Laci: Bentuk Nyata Pemberantasan Pungli

Iptu Andi Sri Ulva Baso, seorang perwira polisi di Sulawesi Selatan, mencetuskan ide inovatif berupa "Meja Tanpa Laci" di berbagai ruang pelayanan publik kepolisian. Inisiatif ini diterapkan di Polsek Panakkukang, Unit PPA Polres Takalar, dan Regident Polda Sulsel, bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan menghilangkan praktik pungutan liar (pungli) yang meresahkan masyarakat.

Husaima 'Ema' Husain, Koordinator Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) Sulsel, memuji keberanian Ulva dalam mengkampanyekan pencegahan korupsi. Ema mengungkapkan bahwa gagasan Meja Tanpa Laci adalah sebuah terobosan berani di lingkungan yang dianggap sulit untuk berbicara tentang pencegahan korupsi.

Ulva sendiri mengaku bahwa ide ini muncul setelah mengikuti Training of Trainers (ToT) SPAK pada tahun 2015 di Sorong, Papua Barat. Saat itu, ia masih berpangkat Bintara dan bertugas di Polsek Panakkukang. SPAK, sebagai gerakan yang diinisiasi oleh KPK, fokus pada pencegahan korupsi melalui pemberdayaan perempuan. Penunjukan dirinya untuk mengikuti ToT SPAK adalah berkat inisiatif Kapolseknya saat itu.

Selama pelatihan, Ulva berinteraksi dengan peserta dari berbagai instansi seperti kejaksaan, lembaga permasyarakatan, dan PKK. Pengalaman ini mengubah cara pandangnya tentang korupsi dan mendorongnya untuk berinovasi.

Sekembalinya dari pelatihan, Ulva melaporkan hasil ToT kepada Kapolsek dan mengusulkan inovasi Meja Tanpa Laci. Usulan ini disetujui, dan meja pelayanan di ruang pelayanan satu atap Polsek Panakkukang diubah menjadi tanpa laci. Inovasi ini kemudian menyebar ke polres lain setelah banyak Kapolres yang datang ke Sulsel, dan meninjau ruangan tersebut.

Atas inisiatifnya ini, Ulva menerima penghargaan dari Kapolri saat itu, Jenderal (Purn) Tito Karnavian, berupa tiket Sekolah Inspektur Polisi (SIP). Setelah lulus SIP dan menjadi perwira, Ulva menjabat sebagai Kanit PPA Polres Takalar dan kembali menerapkan inovasi yang sama.

Cibiran dan Tantangan Tidak Menyurutkan Semangat

Ulva mengakui bahwa inovasinya tidak selalu diterima dengan baik. Ia menerima cibiran dan sindiran dari rekan-rekannya, bahkan dijuluki "KPK tingkat kecamatan" dan dianggap "sok suci". Namun, hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkontribusi sebagai agen SPAK.

Bahkan, Ulva sempat curhat kepada komandannya mengenai penerimaan rekan-rekannya terhadap inovasi Meja Tanpa Laci. Komandannya pun sempat mempertanyakan kesungguhan Ulva. Namun, Ulva tetap teguh pada pendiriannya.

Ulva juga menceritakan pengalamannya menolak pemberian "uang terima kasih" dari warga yang membuat laporan kehilangan. Ia bahkan mengancam akan melaporkan warga yang mencoba menyuapnya.

Salah satu contohnya, ketika Ulva menemukan amplop berisi uang satu juta rupiah di mejanya, ia mencari alamat warga yang sebelumnya hendak memberikan uang tersebut dan mengembalikannya. Ia juga pernah mengancam akan memproses hukum seorang pelapor kasus pelecehan yang mencoba menyuapnya agar laporannya diproses lebih cepat.

Inovasi Meja Tanpa Laci dan keberanian Iptu Sri Ulva Baso dalam menentang korupsi merupakan contoh inspiratif bagi upaya pemberantasan korupsi di Indonesia, khususnya di lingkungan kepolisian. Dedikasinya menunjukkan bahwa perubahan positif dapat dimulai dari hal kecil dan dengan keberanian untuk melawan arus.