Gelombang PHK Massal Ilmuwan Iklim di AS Picu Kekhawatiran Global

Gelombang PHK massal yang menimpa ratusan ilmuwan iklim di Amerika Serikat telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan ilmuwan dan pengamat lingkungan di seluruh dunia. Kebijakan kontroversial ini, yang dinilai sebagai upaya sistematis untuk melemahkan penelitian iklim, berpotensi menghambat upaya global dalam mengatasi perubahan iklim.

Rachel Cleetus, Direktur Kebijakan Senior di Union of Concerned Scientists, mengungkapkan kekecewaannya atas pemecatan dirinya dan hampir 400 ilmuwan lainnya dari proyek National Climate Assessment (NCA6), sebuah laporan komprehensif empat tahunan yang menganalisis dampak perubahan iklim di AS. Cleetus menggambarkan pemecatan ini sebagai "penghancuran" laporan iklim paling komprehensif di negara itu, sebuah tindakan yang sembrono dan merugikan pemahaman tentang dampak iklim terhadap ekonomi, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat.

Langkah ini, menurut Cleetus, bukanlah kejutan yang tiba-tiba. Sebulan sebelumnya, pemerintah telah membekukan pendanaan dan memberhentikan staf US Global Change Research Program (USGCRP), lembaga yang bertanggung jawab atas koordinasi penyusunan NCA6. Tanpa kejelasan mengenai kelanjutan proyek dan dengan pemberhentian semua penulis, nasib NCA6, yang dijadwalkan terbit pada awal 2028, menjadi tidak pasti. Cleetus memperingatkan bahwa laporan tersebut berisiko digantikan oleh "ilmu pengetahuan semu" yang mendukung agenda konservatif dan pro-energi fosil.

Pemecatan ini hanyalah puncak gunung es dari serangkaian tindakan yang mengikis institusi sains iklim di AS. Sebelumnya, ratusan karyawan di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga diberhentikan. NOAA, yang telah lama menjadi pusat riset cuaca dan iklim terkemuka di dunia, kehilangan banyak tenaga ahli. Sebagai tanggapan, ribuan ilmuwan menandatangani surat terbuka kepada Kongres, mengecam pembongkaran lembaga-lembaga ini sebagai "pengingkaran kepemimpinan global AS dalam sains iklim."

Pembersihan serupa juga terjadi di Environmental Protection Agency (EPA) dan Departemen Energi, dengan pemecatan massal dan pemotongan hibah riset. Istilah "perubahan iklim" bahkan dihilangkan dari sejumlah situs web lembaga pemerintah. Lebih jauh lagi, Kepala Ilmuwan NASA dilaporkan dilarang menghadiri pertemuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di Cina, forum utama PBB tentang iklim yang menjadi rujukan kebijakan global.

Florence Rabier dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts mengamati penurunan 10% data dari balon cuaca di wilayah AS, akibat dari kebijakan ini. "Cuaca tak kenal batas negara, dan prediksi yang akurat bergantung pada data global," ujarnya, menekankan dampak internasional dari tindakan tersebut.

Walter Robinson dari NC State University menekankan nilai global temuan NCA6 karena cakupan geografis dan keragaman iklim AS yang luas. Komunitas ilmiah internasional pun turut menyuarakan keprihatinan mereka. Serikat Geofisika Amerika dan Masyarakat Meteorologi Amerika berencana menerbitkan lebih dari 29 jurnal ilmiah terkait iklim untuk memastikan keberlanjutan sains iklim independen.

Paolo Artaxo dari Universitas São Paulo, Brasil, menyoroti gangguan kolaborasi ilmiah antara AS dan berbagai kawasan lain seperti Amerika Latin, Afrika, Asia, dan Eropa akibat pemutusan kerja sama ini. Chennupati Jagadish dari Akademi Sains Australia menyebut keputusan ini sebagai sinyal yang merusak kerja sama global, dan mengakui banyak ilmuwan AS mulai melirik Australia sebagai tempat bernaung baru.

Presiden Trump juga mengusulkan pemangkasan besar dalam anggaran sains federal untuk 2026. Jika ini terjadi, menurut Robinson, pusat gravitasi sains iklim akan bergeser dari AS ke Uni Eropa, Cina, dan negara-negara OECD seperti Inggris, Jepang, Korea, dan Australia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen telah menyelenggarakan konferensi untuk merumuskan insentif keuangan bagi ilmuwan, termasuk yang bergerak di bidang iklim dan keanekaragaman hayati. Sissi Knispel de Acosta dari European Climate Research Alliance mengingatkan bahwa Eropa belum sepenuhnya siap mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS karena anggaran riset iklim masih terfragmentasi dan bergantung pada proyek jangka pendek.

Meski Cleetus tetap optimistis para ilmuwan akan terus berkarya, dia mengakui bahwa "tak ada cara untuk langsung menggantikan mesin inovasi ilmiah sekelas AS di tempat lain dalam semalam." Situasi ini menyoroti pentingnya kerja sama global dan dukungan berkelanjutan untuk penelitian iklim di seluruh dunia.

Daftar poin-poin penting yang dibahas dalam artikel ini:

  • Pemecatan massal ilmuwan iklim di AS dan dampaknya terhadap penelitian iklim.
  • Pengurangan pendanaan untuk program riset iklim federal.
  • Hilangnya data cuaca dan iklim akibat pemecatan.
  • Pergeseran pusat gravitasi sains iklim ke negara lain.
  • Upaya Eropa untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS.