Strategi DS Modest Yogyakarta Bertahan di Tengah Gempuran Produk Impor: Inovasi dan Value Lebih
Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat dengan serbuan produk impor, terutama di sektor fashion, sebuah brand lokal asal Yogyakarta, DS Modest, menunjukkan ketangguhannya. Brand yang berbasis di Jalan Bantul ini, tepatnya di Padukuhan Sawahan, Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, memilih strategi inovasi dan peningkatan nilai produk daripada terjebak dalam perang harga yang merugikan.
Annisa Rahma Herdyana, pemilik DS Modest, menyadari betul bahwa produk impor kini hadir dengan harga yang sangat kompetitif. Namun, ia tidak gentar dan justru melihatnya sebagai tantangan untuk terus berkreasi dan memberikan nilai tambah bagi konsumen. "Untuk produk fashion agar bisa bersaing, diperlukan inovasi dan juga value yang lebih dibandingkan produk serupa dengan harga murah," tegasnya.
DS Modest menawarkan berbagai macam produk fashion muslim, mulai dari pakaian, celana, hijab, hingga perlengkapan ibadah. Salah satu contohnya adalah mukena, yang dijual dengan harga Rp 99.000 per unit. Annisa menekankan bahwa persaingan harga yang ketat hanya akan membuat pelanggan mudah berpindah ke brand lain hanya karena selisih harga yang kecil. Ia memilih untuk menawarkan nilai lebih yang dapat menyelesaikan masalah atau kebutuhan pelanggan.
Salah satu strategi yang diterapkan DS Modest adalah membangun komunitas dengan pelanggan. Mereka memiliki grup WhatsApp dengan ratusan anggota yang mendapatkan pelatihan marketing dan pendampingan kesehatan mental. Hal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan emosional dengan pelanggan dan meningkatkan loyalitas mereka.
DS Modest sendiri didirikan pada tahun 2016 dengan memberdayakan ibu-ibu warga sekitar. Saat ini, sudah ada ratusan ibu yang bekerja di brand tersebut. Awalnya, brand ini berada di bawah naungan PT Margaria Group, namun sejak 2020, DS Modest berdiri sendiri dengan fokus pada produk fashion muslim.
Inovasi juga menjadi kunci penting bagi DS Modest dalam memperluas jangkauannya. Mereka berhasil mendapatkan rekor MURI untuk mukena travel, sajadah, dan sarung, yang menjadi nilai tambah bagi brand. "Model maupun motif mudah ditiru, tetapi untuk yang pionir mencetuskan, tidak semua orang bisa melakukannya," jelas Annisa.
Sejak mulai merambah marketplace pada tahun 2018 dan lebih serius saat pandemi COVID-19, DS Modest memperkenalkan produknya melalui platform online untuk menjangkau pelanggan, terutama saat banyak toko fisik yang tutup. "Tanpa marketplace seperti Shopee, kita tidak mungkin menjangkau wilayah luar Jawa," kata Annisa.
Saat ini, marketplace berkembang pesat dengan berbagai fitur seperti affiliate dan live selling. DS Modest juga menggandeng brand nasional di bidang transportasi untuk memperluas jangkauannya. Selain itu, brand ini sedang menyiapkan vending machine di lokasi dengan mobilitas tinggi, seperti stasiun MRT, dengan tagline 'mudahkan ibadahmu'.
"Jadi kita fokus pada produk unggulan alat ibadah travel, dengan harapan orang yang mencari alat ibadah travel akan langsung ingat DS Modest," ucap Annisa. Saat ini, output produksi DS Modest mencapai sekitar Rp 2 miliar hingga Rp 4 miliar per bulan.