Bencana Alam di Sukabumi: Lima Jiwa Tewas, Empat Hilang Akibat Banjir dan Longsor
Bencana Alam di Sukabumi: Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali dilanda bencana alam berupa banjir dan longsor yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dan hujan deras sejak Kamis, 6 Maret 2025. Bencana ini telah mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat, dengan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang cukup parah. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, tercatat lima orang meninggal dunia dan empat lainnya masih dinyatakan hilang hingga Minggu, 9 Maret 2025.
Jumlah korban jiwa terdiri dari Eneng Santi (40), Siti Nurul Awalia (8), Nendi Saputra (7), Ooy (69), dan Yayar (70). Kelima korban tersebut berasal dari Desa Kertajaya dan Kelurahan Palabuhan Ratu, Kecamatan Simpenan dan Palabuhan Ratu. Sementara itu, empat orang lainnya, yaitu Darjat (60), Siti Maryam (35), Ahyar Fauzi (9), dan Mondi (9), masih dalam proses pencarian intensif oleh tim gabungan dari Kantor SAR Jakarta, Kantor SAR Bandung, dan Pos SAR Palabuhan Ratu. Selain korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan enam orang mengalami luka-luka.
Dampak Bencana:
- Kecamatan Simpenan: Terjadi banjir dan longsor yang mengakibatkan 140 jiwa mengungsi ke rumah kerabat. 34 bangunan mengalami kerusakan berat, dan satu jembatan di Cidadap Kapung Bojongkopo ambruk sehingga tidak dapat dilalui.
- Kecamatan Palabuhan Ratu: Satu rumah mengalami kerusakan berat akibat longsor.
- Kecamatan Lengkong: Longsor mengakibatkan 27 jiwa mengungsi. Tujuh rumah rusak berat, 51 rumah rusak ringan, dan 16 akses jalan serta empat jembatan terdampak.
Total, tujuh desa di tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi terdampak bencana ini. BPBD Provinsi Jawa Barat mencatat dampak kerusakan yang meluas dan sedang berupaya maksimal untuk melakukan penanganan darurat, pencarian korban hilang, serta memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Upaya pencarian difokuskan di Kecamatan Simpenan dan Lengkong, wilayah yang paling terdampak parah.
Proses evakuasi dan penyelamatan korban dilakukan dengan koordinasi antar instansi terkait, termasuk BPBD, TNI, Polri, dan relawan. Bantuan berupa logistik, makanan, dan obat-obatan telah didistribusikan kepada para pengungsi. Namun, dibutuhkan dukungan lebih lanjut dari berbagai pihak untuk membantu pemulihan pascabencana, baik dalam bentuk bantuan material maupun dukungan psikologis bagi korban dan keluarga yang kehilangan.
BPBD Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat kondisi cuaca yang masih ekstrem. Masyarakat di daerah rawan bencana disarankan untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika diperlukan. Informasi terkini terkait perkembangan situasi bencana akan terus dipantau dan diinformasikan secara berkala.