Kardinal Prevost Terpilih Sebagai Paus Leo XIV, Prediksi AI Meleset
Kardinal Prevost Terpilih Sebagai Paus Leo XIV: Prediksi AI Gagal
Kabar mengejutkan datang dari Vatikan, Kardinal Robert Francis Prevost secara resmi diumumkan sebagai Paus terpilih, dengan nama kepausan Paus Leo XIV. Pengumuman ini tidak hanya menandai babak baru bagi Gereja Katolik, tetapi juga mematahkan prediksi yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI) mengenai suksesor Paus Fransiskus.
Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, dunia menantikan siapa yang akan menduduki Tahta Suci. Spekulasi pun bermunculan, bahkan teknologi AI pun mencoba meramalkan siapa yang akan menjadi Paus ke-267. Sebuah algoritma pembelajaran mesin menganalisis posisi ideologis para petinggi Gereja Katolik yang berhak memilih Paus.
Analisis AI dan Hasil yang Tak Terduga
Algoritma AI yang digunakan para peneliti mempelajari teks dari berbagai sumber, termasuk unggahan media sosial dan pidato para kardinal. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kecenderungan ideologis dan memprediksi siapa yang akan terpilih. Namun, hasil conclave kali ini membuktikan bahwa dinamika pemilihan Paus jauh lebih kompleks dari sekadar analisis data.
Menurut Science.org, Kardinal Prevost tidak termasuk dalam daftar kandidat yang diprediksi oleh AI. Algoritma tersebut sebelumnya menjagokan Kardinal Pietro Parolin dari Italia sebagai Paus berikutnya. Para ahli mengakui bahwa pendekatan AI ini berpotensi berguna untuk memprediksi kontes elektoral lainnya, tetapi conclave kepausan memiliki karakteristik unik yang sulit diukur.
Proses pemilihan Paus, yang telah berlangsung selama berabad-abad, dilakukan secara rahasia dan melibatkan beberapa putaran pemungutan suara hingga seorang kandidat memperoleh dua pertiga suara. Tidak ada jajak pendapat atau pemilihan pendahuluan yang dapat dianalisis, dan para kardinal terikat sumpah kerahasiaan.
Tantangan dalam Memprediksi Pemilihan Paus
Eugenio Valdano, seorang epidemiologis dari INSERM, badan penelitian biomedis Prancis, menjelaskan bahwa pemilihan Paus menghasilkan sangat sedikit data dibandingkan dengan pemilihan politik lainnya. Dinamika pemilihan ini melibatkan sejumlah kecil pemilih yang memilih pemimpin dari antara mereka sendiri, sangat berbeda dengan pemilihan politik yang melibatkan jutaan pemilih.
Valdano, bersama dengan Michele Re Fiorentin dari Polytechnic University of Turin dan Alberto Antonioni dari University of Madrid, mengembangkan metode untuk memprediksi pemilihan Paus dengan mempelajari kemunculan faksi politik dan ideologis di dalam Gereja. Mereka menggunakan algoritma yang dilatih pada catatan sejarah para uskup dan penerus yang mereka tunjuk.
Logika di balik pendekatan ini adalah bahwa keputusan seorang uskup atau Paus untuk menunjuk seorang uskup baru atau mengangkatnya menjadi kardinal mungkin dipengaruhi oleh kesamaan ideologis. Ketika tiba saatnya untuk memilih Paus baru, diasumsikan bahwa setiap pemilih akan cenderung memilih kolega yang memiliki pandangan yang sama.
Faktor-Faktor Ideologis yang Dipertimbangkan
Para peneliti memilih empat topik luas yang dianggap penting bagi para kardinal, yaitu:
- Sikap terhadap pasangan sesama jenis
- Migrasi internasional dan kemiskinan
- Dialog Gereja Katolik dengan agama-agama lain
- Sinodalitas (tingkat otonomi dan otoritas pemimpin gereja lokal)
Dengan menggunakan data dari situs web yang mengumpulkan pernyataan publik para kardinal, para peneliti melatih model AI untuk menentukan seberapa progresif atau konservatif sikap masing-masing elektor pada setiap isu. Model tersebut kemudian mengkategorikan 135 elektor yang memenuhi syarat berdasarkan kesamaan ideologis mereka dengan kandidat lain.
Simulasi Pemilihan dan Hasil yang Berbeda
Para ilmuwan mensimulasikan proses pemilihan conclave di antara para kardinal virtual mereka. Setelah beberapa putaran pemungutan suara, hasilnya adalah Kardinal Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, sebagai kandidat yang paling mungkin terpilih. Kardinal Parolin dianggap sebagai calon terdepan dan memiliki peluang terbaik berdasarkan prediksi AI.
Kandidat potensial lainnya adalah Uskup Agung Stephen Brislin dari Afrika Selatan. Brislin dianggap sebagai seorang moderat dan sering berbicara mendukung imigran dan menyerukan gereja untuk mengatasi kemiskinan. Selain Kardinal Brislin, kandidat lain yang muncul dalam prediksi ini adalah Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina yang dikenal moderat.
Faktor-Faktor Tak Terduga dan Keterbatasan Model
Jika para peneliti menyesuaikan parameter seperti isu terpenting dalam pemilihan, hasilnya dapat berubah. Misalnya, jika memprioritaskan migrasi internasional dan kemiskinan, Uskup Agung Matteo Zuppi dari Italia akan menjadi pemenang yang paling mungkin. Analisis menempatkan pandangan Prevost di pusat keempat topik ideologis, yang berarti ia kemungkinan besar terpilih sebagai kandidat kompromi.
Re Fiorentin mengakui bahwa model tersebut mungkin tidak mempertimbangkan faktor politik dan geografis yang berperan dalam pemilihan tersebut. Kurangnya informasi tersebut merupakan kelemahan utama model AI. Di masa mendatang, model tersebut dapat menyertakan informasi geografis tentang para kandidat, tetapi data penting lainnya seperti pengaruh geopolitik dan lobi jauh lebih sulit diperoleh dan digunakan.
Rohitash Chandra dari University of New South Wales Sydney, Australia, mengatakan bahwa pendekatan mengkategorikan posisi kandidat pada topik tertentu dapat diterapkan pada jenis prediksi pemilu lainnya seperti pemilu lokal. Luigi Curini dari University of Milan menambahkan bahwa faktor-faktor lain seperti percakapan malam hari di antara para pemilih juga dapat memengaruhi pemungutan suara.
Para peneliti mengakui keterbatasan ini, terutama kurangnya data historis yang dapat menjelaskan dinamika conclave yang sebenarnya. Mereka berharap penelitian ini dapat memberikan wawasan baru dan merangsang penelitian lebih lanjut tentang proses pemilihan Paus.