Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung di Lumajang Mendapatkan Perlindungan Intensif
Kasus kekerasan seksual yang melibatkan seorang ayah terhadap putrinya di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Kabupaten Lumajang memastikan bahwa korban, seorang remaja berusia 13 tahun dengan inisial AR, berada dalam kondisi aman dan mendapatkan perlindungan yang memadai.
Terduga pelaku, TR (34), dilaporkan telah melakukan tindakan bejat tersebut berulang kali sejak korban masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat ini, AR telah duduk di kelas 1 SMP. Kasus ini menggemparkan masyarakat setempat dan memicu keprihatinan mendalam.
Darno, Kabid Perlindungan Anak dan Rehabilitasi Sosial Dinsos P3A, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi korban. Meskipun belum ditempatkan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), keberadaan AR saat ini dirahasiakan dan dipastikan aman dari jangkauan pelaku. Hal ini dilakukan mengingat TR sebelumnya masih tinggal di rumahnya di Kecamatan Randuagung.
- Korban tidak lagi tinggal satu atap dengan pelaku.
- Lokasi korban dirahasiakan dari pelaku.
"Posisi bapak korban ada di rumah, kalau anaknya sudah tidak di rumah, ada di tempat tertentu, bapaknya aja tidak tahu di mana posisi korban ini," ungkap Darno.
Prioritas utama saat ini adalah memberikan pendampingan intensif kepada korban. AR menunjukkan tanda-tanda stres, seperti kehilangan nafsu makan dan gangguan tidur. Dinsos-P3A berupaya secepatnya memindahkan korban ke LKSA agar mendapatkan perawatan dan pendidikan yang berkelanjutan.
"Awalnya sempat saya kira ada di rumah itu, jadi mau saya ambil karena masak tinggal sama pelaku. Tapi ternyata sudah di tempat lain yang aman, nunggu proses selesai ini semoga anaknya bisa segera di bawa ke LKSA agar sekolah nya juga tidak terjeda," jelasnya.
Saat ini, TR telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Sementara itu, AR telah menjalani pemeriksaan psikologis untuk mengidentifikasi trauma yang dialaminya. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada korban dalam proses pemulihan dan memastikan masa depannya terjamin. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan dan perlindungan terhadap anak-anak dari segala bentuk kekerasan, terutama di lingkungan keluarga.