Paus Leo XIV Ungkap Inspirasi di Balik Pemilihan Nama Kepausan

Vatikan – Paus Leo XIV, pemimpin baru Gereja Katolik, mengungkapkan alasan mendalam di balik pemilihan nama kepausannya, sebuah penghormatan terhadap warisan pendahulunya, Paus Leo XIII.

Dalam pidato perdananya di hadapan Dewan Kardinal pada hari Sabtu, 10 Mei 2025, Paus Leo XIV menyatakan bahwa keputusannya untuk menggunakan nama tersebut didorong oleh keinginan untuk melanjutkan dan menghormati kontribusi signifikan Paus Leo XIII. Sosok Paus Leo XIII dikenal luas karena pembelaannya yang gigih terhadap hak-hak pekerja di tengah gejolak Revolusi Industri, sebuah perjuangan yang menurut Paus Leo XIV tetap relevan hingga saat ini.

"Saya memilih untuk mengambil nama Leo XIV," kata Paus Prevost, sebagaimana dilaporkan oleh AFP. Ia menyoroti relevansi ajaran sosial Gereja di era modern, terutama dalam menghadapi kemajuan teknologi yang pesat. Menurutnya, prinsip-prinsip yang diperjuangkan oleh Leo XIII sangat penting dalam merespons tantangan baru yang muncul akibat perkembangan kecerdasan buatan, yang menimbulkan pertanyaan mendasar tentang martabat manusia, keadilan, dan hak-hak tenaga kerja.

Paus Leo XIV mencatat sejarah sebagai paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat dan menjadi pemimpin ke-267 Gereja Katolik. Ia kini memikul tanggung jawab besar untuk memimpin lebih dari 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia. Dalam pidatonya, yang disampaikan pada usia 69 tahun, Paus Leo XIV juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan semangat pelayanan sosial dan kesederhanaan yang diwariskan oleh pendahulunya, Paus Fransiskus. Ia menekankan bahwa peran seorang paus bukanlah sebagai penguasa, melainkan sebagai pelayan yang rendah hati bagi seluruh umat manusia.

"Marilah kita ambil warisan berharga ini dan teruskan perjalanan, terinspirasi oleh harapan yang sama yang lahir dari iman," ujarnya, merujuk pada pentingnya iman dalam menghadapi tantangan global.

Sehari sebelumnya, dalam homili pertamanya pada Jumat, 9 Mei 2025, Paus Leo XIV menyerukan kepada Gereja untuk secara aktif menanggapi krisis iman yang melanda banyak wilayah. Ia mengamati bahwa penurunan iman seringkali berkorelasi dengan masalah sosial yang lebih luas, seperti hilangnya makna hidup, kurangnya belas kasihan, pelanggaran martabat manusia, krisis keluarga, dan berbagai masalah lain yang mempengaruhi masyarakat.

Robert Francis Prevost, yang sebelumnya tidak begitu dikenal di kancah internasional, menjadi sorotan menjelang konklaf. Ia diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada tahun 2023 dan dikenal karena pengalamannya yang luas dalam pelayanan pastoral.

Dalam beberapa hari mendatang, dunia akan mengamati dengan seksama kebijakan dan inisiatif pertama Paus Leo XIV sebagai pemimpin baru Gereja Katolik. Pada hari Minggu, 11 Mei 2025, ia dijadwalkan untuk menyapa umat dari balkon Basilika Santo Petrus dalam doa Regina Coeli dan akan bertemu dengan para diplomat dari berbagai negara.

Puncak dari agenda kepausan minggu ini adalah Misa pelantikan yang akan diadakan pada hari Minggu, 18 Mei 2025, di Lapangan Santo Petrus. Acara ini diperkirakan akan dihadiri oleh ribuan umat dan para pemimpin dunia, yang akan menyaksikan momen bersejarah ini.