Pengalihan Arus Lalu Lintas di Magelang Iringi Kirab Waisak Menuju Borobudur
Menjelang puncak perayaan Hari Raya Waisak di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, sebuah prosesi kirab sakral dimulai dari Candi Mendut. Perhelatan akbar ini berdampak pada pengaturan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama di sekitar lokasi.
Otoritas setempat menerapkan sistem buka tutup jalan secara situasional demi kelancaran dan keamanan prosesi kirab. Menurut Kepala Posko Pengamanan Candi Mendut, penutupan jalan secara total dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, sejak pukul 09.00 WIB, rekayasa lalu lintas telah diberlakukan mengingat peningkatan volume kendaraan dan kepadatan arus yang signifikan.
"Arus lalu lintas menuju Borobudur dialihkan melalui pertigaan Cabean," ujar Warsito. Kendaraan kecil diarahkan melalui jalur alternatif Rambeyana-Kubah Kuning, sementara bus diperbolehkan melintas lurus karena keterbatasan manuver di jalur pertigaan Cabean.
Waktu pembukaan kembali ruas jalan yang ditutup akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan. "Setelah arak-arakan selesai dan kondisi dinyatakan aman, jalan akan segera dibuka kembali," imbuh Warsito.
Kepolisian mengimbau kepada para wisatawan dan pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati selama melintas di area sekitar Candi Mendut dan Borobudur. Peningkatan volume kendaraan dan aktivitas pejalan kaki menuntut kehati-hatian ekstra untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Kirab Waisak tahun ini menjadi momen yang sangat istimewa bagi umat Buddha. Prosesi ini mengiringi relik Sang Buddha, serta membawa air berkah dari Jumprit dan api dharma abadi dari Mrapen. Ribuan umat Buddha, termasuk para biksu dari berbagai negara, turut serta dalam kirab tersebut.
Setibanya di pelataran Candi Borobudur, umat Buddha melaksanakan puja bhakti bersama dan meditasi khusyuk. Detik-detik Waisak, yang jatuh pada pukul 23.55.29 WIB, menjadi puncak spiritual yang menandai kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha Gautama. Momen ini diyakini sebagai waktu yang tepat untuk merefleksikan ajaran Buddha dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pradaksina, yaitu ritual mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali sebagai wujud penghormatan. Sebagai penutup yang indah, ribuan lampion diterbangkan ke langit malam, membawa serta doa dan harapan akan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi seluruh makhluk hidup.