Panduan Bagi Pengunjung: Menyaksikan Kirab Waisak di Borobudur dengan Khidmat
Perayaan Waisak di Candi Borobudur merupakan momen sakral dan menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai daerah. Salah satu prosesi penting dalam rangkaian perayaan ini adalah Kirab Waisak yang dimulai dari Candi Mendut dan berakhir di Candi Borobudur. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kirab ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak mengganggu jalannya ibadah umat Buddha dan tetap menjaga kesakralan acara.
Rangkaian Kirab Waisak
Kirab Waisak, yang dijadwalkan berlangsung pada siang hari, dimulai dengan arak-arakan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Prosesi ini melibatkan umat Buddha yang berjalan kaki sambil membawa api dharma dari Mrapen dan air berkah dari Jumprit. Selain itu, terdapat pula kendaraan hias dari berbagai majelis yang membawa persembahan simbolis. Diperkirakan, puluhan mobil hias akan turut serta memeriahkan arak-arakan ini.
Persembahan yang dibawa dalam kirab memiliki makna mendalam. Hasil bumi seperti padi menjadi simbol harapan dan doa untuk kemakmuran bangsa. Simbol-simbol kenegaraan seperti Pancasila dan Roda Dharma juga turut dibawa sebagai representasi nilai-nilai luhur bangsa.
Etika dan Panduan Bagi Wisatawan
Koordinator Acara Waisak Nasional mengimbau para wisatawan untuk menjaga ketertiban dan keamanan selama menyaksikan perayaan Waisak. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Keamanan Barang Pribadi: Wisatawan diminta untuk menjaga barang bawaan masing-masing.
- Ketertiban Umum: Turut serta menjaga keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung.
- Aturan Candi Borobudur: Mematuhi aturan yang berlaku di lingkungan Candi Borobudur.
Detik-Detik Waisak dan Pelepasan Lampion
Momen puncak Waisak, yaitu detik-detik Waisak, merupakan waktu yang sakral bagi umat Buddha. Momen ini memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan, dan kematiannya. Tradisi perayaan detik-detik Waisak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1932 oleh Theosofische Vereniging.
Setelah detik-detik Waisak, acara dilanjutkan dengan pelepasan lampion di pelataran Candi Borobudur. Bagi pengunjung yang ingin mengikuti acara ini, terdapat beberapa jalur yang dapat dipilih:
- Jalur Hijau (EV Wara Wiri): Menggunakan kendaraan shuttle dari titik masuk menuju Marga Utama.
- Jalur Kuning (Pejalan Kaki): Berjalan kaki mengikuti petunjuk arah ke Marga Utama.
Aturan Tambahan Bagi Peserta Pelepasan Lampion
Selain itu, terdapat aturan tambahan yang wajib dipatuhi peserta pelepasan lampion, yaitu:
- Wajib:
- Menggunakan pakaian putih dan sopan.
- Menjaga ketenangan selama acara Waisak.
- Membuang sampah pada tempatnya.
- Selalu menjaga anak-anak dalam pengawasan.
- Lansia dan disabilitas menggunakan area yang sudah disiapkan.
- Datang tepat waktu dan gunakan tagar #WaisakdiBorobudur untuk setiap unggahan di media sosial.
- Membawa air minum dalam tumbler.
- Dilarang:
- Membawa makanan dan minuman di area lampion.
- Memanjat pagar pembatas.
- Merokok.
- Membawa senjata tajam.
- Membawa obat-obatan terlarang.
- Menerbangkan drone tanpa izin.
- Memasuki area penerbangan lampion tanpa tiket.
- Menggunakan payung di area Waisak dan Lampion.
- Mengambil foto secara langsung dan dekat ke arah Bhikku yang sedang beribadah.
- Membawa air minum dalam botol kemasan.
Dengan mematuhi panduan dan aturan yang berlaku, diharapkan para wisatawan dapat menyaksikan Kirab Waisak dan perayaan Waisak di Candi Borobudur dengan khidmat dan penuh penghayatan.