Tergiur Imbalan, Warga Depok Rela Data Iris Mata Dipindai Worldcoin
Gelombang antusiasme masyarakat terhadap Worldcoin, proyek yang menawarkan imbalan uang tunai dengan imbalan pemindaian iris mata, telah menyisakan cerita di berbagai daerah, termasuk di sebuah ruko di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat.
Di tengah hiruk pikuk jalanan, Basuki, seorang penjual batagor berusia 49 tahun, menyaksikan fenomena unik di depan matanya. Ruko bertuliskan 'World' menjadi pusat perhatian, dengan antrean panjang orang-orang yang rela menunggu giliran untuk dipindai iris matanya. Awalnya, Basuki tak terlalu peduli, fokus pada usahanya menjajakan batagor. Namun, rasa penasaran muncul seiring dengan semakin ramainya antrean dan cerita tentang imbalan yang didapatkan.
"Saya malah seneng. Yang penting laku, terus setiap orang beli ke sini, mereka cerita dapat uang," ujar Basuki, menggambarkan bagaimana kehadiran Worldcoin justru mendatangkan berkah bagi bisnisnya. Setelah dibujuk oleh orang-orang di sekitarnya, Basuki akhirnya ikut mencoba memindai iris matanya, tergiur dengan imbalan yang dijanjikan. Ia takjub bahwa prosesnya mudah dan tidak memerlukan identitas resmi seperti KTP. Uang yang didapatkannya, meski tak seberapa, menjadi tambahan penghasilan yang berarti bagi keluarganya.
Kisah serupa juga dialami Husni, seorang karyawan toko berusia 23 tahun. Dengan gaji pas-pasan dan kebutuhan hidup yang terus meningkat, ia merasa terpaksa mengikuti jejak orang lain untuk memindai iris matanya. Baginya, imbalan dari Worldcoin adalah secercah harapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga.
"Cuma scan mata, cuma sebentar, cuma buat bantu biaya sehari-hari," kata Husni, menirukan ucapan temannya yang telah lebih dulu mencoba. Meskipun kini ia merasa menyesal setelah mengetahui potensi risiko keamanan data pribadi, Husni mengaku saat itu ia merasa yakin karena banyaknya orang yang berpartisipasi.
Nadia, seorang lulusan SMA yang sedang menganggur, juga tergiur dengan imbalan yang ditawarkan Worldcoin. Ia mendengar dari teman-temannya tentang kesempatan mendapatkan uang dengan mudah. Tanpa pikir panjang, Nadia mengikuti saran temannya dan mendaftar untuk pemindaian iris mata.
"Lumayan banget uang segitu, kan sekarang kondisi juga lagi sulit," ujar Nadia, menggambarkan betapa berartinya uang yang didapatkannya di tengah kesulitan ekonomi. Ia mengakui tidak terlalu memperhatikan penjelasan tentang Worldcoin saat proses pendaftaran, namun kini merasa khawatir setelah membaca komentar-komentar negatif di media sosial.
Agung Abdillah, seorang teknisi internet berusia 28 tahun, bahkan termotivasi oleh seorang tokoh politik yang telah memindai iris matanya. Ia penasaran dengan teknologi Worldcoin dan potensi manfaatnya di masa depan. Agung pun mendaftar dan mengikuti proses pemindaian iris mata tanpa ragu.
"Ya saat itu mikir-nya amanlah, orang ada tokoh terkenal yang ikut, negara kan nggak melarang kan, ya berarti aman-aman saja," jelas Agung, mengungkapkan alasan mengapa ia merasa yakin untuk berpartisipasi dalam proyek Worldcoin. Uang yang didapatkannya digunakan untuk membeli bensin untuk pergi bekerja, meringankan beban pengeluaran sehari-hari.
Namun, di balik antusiasme masyarakat, proyek Worldcoin kini menghadapi kontroversi. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menangguhkan operasi Worldcoin di Indonesia karena kekhawatiran atas pengumpulan dan penyimpanan data biometrik tanpa izin yang jelas. Kekhawatiran ini didasarkan pada potensi penyalahgunaan data pribadi dan risiko keamanan yang mungkin timbul di masa depan.
Damar Juniarto, Founder Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi untuk Demokrasi (PIKAT), menyayangkan keterlambatan tindakan pemerintah dalam menanggapi proyek Worldcoin. Ia menekankan pentingnya memperkuat regulasi dan meningkatkan literasi keamanan data pribadi untuk melindungi masyarakat dari potensi kerugian.
Kisah Basuki, Husni, Nadia, Agung, dan ratusan orang lainnya menjadi potret bagaimana iming-iming imbalan uang tunai dapat memicu masyarakat untuk rela memberikan data biometrik mereka, tanpa sepenuhnya memahami risiko yang mungkin timbul. Kontroversi Worldcoin menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kehati-hatian dan kesadaran akan keamanan data pribadi di era digital.