Penutupan Jalur Mendut-Borobudur Saat Kirab Waisak Berkah Rezeki Nomplok Bagi Tukang Ojek Dadakan

MAGELANG - Perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE membawa berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat di sekitar Candi Mendut dan Candi Borobudur. Penutupan jalur utama yang menghubungkan kedua candi tersebut, yang diberlakukan selama prosesi Kirab Waisak pada Senin (12/5/2025), memicu munculnya jasa ojek dadakan yang menawarkan transportasi alternatif bagi para peziarah dan pengunjung.

Momen ini dimanfaatkan warga sekitar untuk meraup rezeki tambahan dengan menawarkan jasa transportasi ojek. Titik-titik strategis seperti persimpangan Karet dan sekitar Taman Rekreasi Mendut menjadi pangkalan sementara bagi para tukang ojek dadakan ini. Mereka menawarkan jasa antar bagi para peserta kirab yang ingin mencapai titik awal acara.

Ahmad Fauzi, seorang warga berusia 42 tahun, mengaku telah empat tahun berturut-turut memanfaatkan momen Waisak untuk menjadi tukang ojek dadakan. Sebelumnya dia bekerja sebagai penjaga sekolah menengah kejuruan. Pada hari itu, hingga pukul 14.08 WIB, ia telah berhasil mengantarkan tiga penumpang dengan tarif Rp 10.000 per orang. Baginya, ini adalah tambahan penghasilan yang lumayan. Pengalaman terbaiknya adalah ketika pertama kali menjadi tukang ojek dadakan dan berhasil mengumpulkan hingga Rp 800.000.

Cerita serupa datang dari Muhammad Nur Safiq, seorang siswa kelas XI dari sebuah SMK swasta di Kecamatan Mertoyudan. Remaja berusia 19 tahun ini memanfaatkan setiap momentum liburan, termasuk Waisak, untuk mencari nafkah sebagai tukang ojek di sekitar Kampung Seni Borobudur. Ia mengakui bahwa penghasilan yang didapat saat Waisak jauh lebih besar dibandingkan hari-hari libur biasa. Kehadirannya sebagai tukang ojek dadakan ini sudah berjalan selama satu tahun terakhir.

Kirab Waisak, yang menjadi puncak perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE, dimulai pada Senin (12/5/2025) siang, dengan rute dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) menjadwalkan acara ini berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Ribuan umat Buddha dan masyarakat umum diperkirakan mengikuti kirab tersebut dengan berjalan kaki, diiringi oleh mobil hias dan berbagai instalasi seni.

Prosesi kirab ini membawa Api Abadi dari Mrappen, Grobogan, dan Air Suci dari Umbul Jumprit, Temanggung, yang sebelumnya disemayamkan di Candi Mendut, menuju Candi Borobudur. Penutupan jalur Mendut-Borobudur diberlakukan sebagai bagian dari langkah pengamanan untuk memastikan kelancaran dan keamanan jalannya acara. Penutupan jalan ini otomatis memicu kebutuhan akan transportasi alternatif, yang kemudian dimanfaatkan oleh para tukang ojek dadakan untuk mencari rezeki.