Tiga Srikandi Polri Bersinar dalam Nominasi Hoegeng Awards 2025: Dedikasi untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Dewan Pakar Hoegeng Awards 2025 telah mengumumkan tiga kandidat teratas untuk kategori Polisi Pelindung Perempuan dan Anak, sebuah penghargaan yang didedikasikan untuk menghormati anggota kepolisian yang menunjukkan komitmen luar biasa dalam melindungi kelompok rentan. Pemilihan ini dilakukan melalui rapat hybrid yang melibatkan tokoh-tokoh terkemuka seperti Alissa Qotrunnada Wahid dari Jaringan Gusdurian Indonesia, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, mantan Plt Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa, anggota Kompolnas Gufron Mabruri, dan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman.

Proses seleksi berlangsung dinamis, dengan diskusi mendalam untuk menentukan tiga kandidat terbaik. Masyarakat diberi kesempatan untuk memberikan informasi tambahan mengenai para kandidat melalui email [email protected], dimulai pada 11 Mei 2025. Kerahasiaan identitas pengirim dijamin, dan panitia tidak menerima segala bentuk penggalangan dukungan.

Berikut adalah profil singkat dari ketiga kandidat:

  • Kombes Retno Prihawati: Sebagai Atase Polri di Manila, Filipina sejak 2023, Kombes Retno Prihawati telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam memerangi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Ia berhasil menyelamatkan sekitar 600 Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban TPPO di Filipina. Respons cepat terhadap laporan dan koordinasi yang efektif dengan otoritas Filipina, Bareskrim, dan Divhubinter Polri menjadi kunci keberhasilannya. Pengusul Retno adalah salah satu korban TPPO yang dijadikan scammer oleh sindikat di Las Pinnas, Filipina. Mayoritas korban TPPO yang telah diselamatkan bekerja di bawah kendali mafia judi online (judol). Para korban mayoritas hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP. Sindikat judi online juga biasanya memiliki jaringan untuk melakukan kejahatan lainnya seperti scam, perdagangan orang dan sebagainya. Setidaknya ada dua lokasi penggerebekan yang meninggalkan kesan untuk Retno sejak awal berdinas sebagai Atase Polri di Manila, yakni Sun Valley Hub Pampanga dan Las Pinas. Dirinya selalu berkomunikasi intens dengan Philippine National Police (PNP) hingga tingkat provinsi dan distrik, Biro Imigrasi Filipina, serta Philippine Drug Enforcement Agency (PDEA).

  • Kombes Rita Wulandari: Saat ini menjabat sebagai Kasubdit 1 Dittipid PPA PPO Bareskrim Polri, Kombes Rita Wulandari dikenal atas perhatiannya yang mendalam terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pengalamannya mencakup pengungkapan kasus penculikan dan pelecehan anak selama empat tahun, serta pemulangan 2.500 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) korban TPPO di Arab Saudi. Pada tahun 2010, ia menangani kasus kekerasan terhadap TKW bernama Sumiati, yang disiksa oleh majikannya di Saudi. Pada tahun 2011, Rita berperan aktif hingga berhasil mengevakuasi 2.500 TKI korban TPPO dari Saudi. Evakuasi ini merupakan pengembangan kasus Sumiati. Saat menjenguk Sumiati di RS Saudi, Rita mendapatkan banyak WNI yang dirawat karena korban kekerasan oleh majikan. Tahun 2019, Rita mendapat penghargaan dari Menteri PPPA karena mengungkap kasus kekerasan dan eksploitasi yang melibatkan anak sebagai korban maupun pelaku di media sosial. Tahun 2020, Rita menjabat sebagai Kapolres Tegal Kota. Dia banyak menerima laporan dari Bhabinkamtibmas bahwa banyak terjadi KDRT di wilayahnya. Rita mengidentifikasi KDRT terjadi karena masalah ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Atas dedikasinya selama ini di kasus perlindungan perempuan dan anak, Rita mendapat penghargaan Pin Emas Kapolri pada 2020. Dia pun mendapat penghargaan dari International Association of Women Police 2020.

  • AKBP Ni Made Pujewati: Sebagai Kasubdit Renakta Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), AKBP Ni Made Pujewati telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menangani kasus-kasus sensitif. Salah satu kasus terbarunya adalah pengungkapan kasus pelecehan seksual dengan tersangka Agus Buntung atau I Wayan Agus Suartama (IWAS). Pendekatan komprehensif AKBP Pujewati berhasil menuntaskan kasus hingga dibawa ke meja hijau. Reza Indragiri mengusulkan AKBP Pujewati sebagai kandidat penerima anugerah Hoegeng Awards 2025 karena terkesan dengan cara AKBP Pujewati menangani kasus Agus buntung. Selama menjabat sebagai Kasubdit Renakta Polda NTB, AKBP Pujewati juga menangani sejumlah kasus menonjol yang menjadi perhatian publik: