Kisah Inspiratif Kiki Kurniawan: Pengemudi Bus yang Menjaga Keselamatan Penumpang dan Menghubungkan Keluarga
Lebih dari satu dekade Kiki Kurniawan telah mendedikasikan dirinya sebagai pengemudi bus di perusahaan otobus Gapuraning Rahayu (GR). Pria asal Pamalayan, Cijeungjing, Ciamis ini telah lama menggeluti profesi ini dengan penuh dedikasi dan semangat.
Setiap hari, Kiki mengemudikan bus yang mengangkut penumpang dari Kawunganten, Cilacap, menuju terminal-terminal utama di Jakarta seperti Kampung Rambutan dan Lebak Bulus. "Sejak kecil saya memang bercita-cita menjadi pengemudi bus," ungkap Kiki saat ditemui di Pool Gapuraning Rahayu, Ciamis.
Dari Mekanik Hingga Menjadi Pengemudi Bus
Perjalanan karier Kiki tidak langsung dimulai di dunia transportasi bus. Awalnya, ia bekerja sebagai mekanik mobil di Tangerang. Kemudian, ia beralih profesi menjadi pengemudi truk ekspedisi, bahkan sempat mengendalikan truk tronton lintas provinsi.
"Kemudian ada kesempatan untuk bergabung di perusahaan bus. Alhamdulillah, saya diterima. Pertama kali masuk di GR (Gapuraning Rahayu) dan bertahan hingga saat ini," jelasnya.
Kiki masih mengingat dengan jelas momen pertama kali ia mengangkut penumpang. Baginya, mengemudikan kendaraan besar dan mengantarkan penumpang dengan selamat sampai tujuan adalah kepuasan tersendiri.
"Mengantarkan penumpang dari kota asal sampai kota tujuan, rasanya sangat luar biasa," kata Kiki dengan bangga.
Pengalaman Mendebarkan di Tol Cipularang
Selama lebih dari sepuluh tahun menjadi pengemudi bus, Kiki telah menghadapi berbagai pengalaman. Salah satu yang paling membekas adalah kejadian di Tol Cipularang saat hujan deras.
Waktu itu, Kiki sedang membawa penumpang dari Jakarta menuju Pangandaran. Ia melihat dua truk melaju beriringan di lajur kiri. Tiba-tiba, salah satu truk mencoba menyalip dari kanan, tepat ke arah lajur yang sedang dilaluinya.
"Dia masuk ke kanan, saya membunyikan klakson, tapi tidak terdengar," cerita Kiki.
Dalam situasi yang sangat berbahaya tersebut, Kiki melihat celah sempit untuk menghindar dan dengan sigap membanting setir ke kiri.
"Saya berpikir, tidak apa-apa spion hilang (membentur bodi truk), harganya tidak seberapa, yang terpenting penumpang, saya, dan kondektur selamat," ujarnya.
Berkat refleks yang cepat dan konsentrasi penuh, ia berhasil menghindari tabrakan.
"Pengalaman itu sangat sulit dilupakan," jelasnya.
Tantangan di Jalan dan Tanggung Jawab Besar
Menurut Kiki, semua jalur memiliki potensi risiko kecelakaan, tergantung pada kehati-hatian pengemudi.
"Sebenarnya semua jalur rawan, tetapi tergantung pada bagaimana pengemudi memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai ada kecerobohan dan keteledoran," katanya.
Namun, ia menyoroti jalur Gentong dan Nagreg yang menurutnya sangat menantang karena medannya yang berkelok dan tanjakan yang curam.
"Perlu konsentrasi tinggi, harus diperhatikan oleh semua pengemudi (saat melintasi Gentong dan Nagreg)," tambahnya.
Prioritas Keluarga di Tengah Jadwal yang Padat
Dalam kesehariannya, Kiki mengemudi setiap dua hari sekali. Ia mengatakan bahwa waktu istirahat yang diberikan sudah cukup ideal.
"Saya rasa tidak memengaruhi kesehatan, karena kita sehari bekerja dan sehari libur," ujarnya.
Dengan pola kerja seperti ini, ia masih bisa meluangkan waktu bersama keluarga.
"Keluarga sudah menerima (pekerjaannya sebagai pengemudi) karena ini sudah menjadi panggilan bagi saya," ungkapnya.
Perjalanan jauh dan jam kerja yang panjang tidak lagi menjadi beban, karena sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak menjadi pengemudi truk.
"Sudah terbiasa (mengemudi lama), tidak ada beban," ucapnya.
Ketepatan Waktu Sebagai Prinsip Utama
Satu hal yang menjadi prinsip utama bagi Kiki dalam menjalankan tugasnya adalah ketepatan waktu.
"Soal ketepatan waktu, kembali lagi ke pengemudi, cara mengemudi setiap pengemudi berbeda. Tapi bagi saya, ketepatan waktu harus 100 persen," tegasnya.
Meski menghadapi tantangan seperti jalan yang bergelombang, terutama di wilayah Cilacap, Kiki tetap berusaha menjaga jadwal agar penumpang tidak kecewa.
Harapan untuk Pemerintah dan Masa Depan Angkutan Umum
Sejak pandemi Covid-19, jumlah penumpang bus mengalami penurunan drastis.
Salah satu penyebabnya, menurut Kiki, adalah maraknya travel gelap yang mengambil penumpang tanpa izin resmi.
"Jadi bukan tidak ada penumpang, tetapi sebagian besar penumpang diambil oleh travel-travel gelap. Saya meminta pemerintah untuk menertibkannya," harapnya.
Kiki merasa bersyukur bisa bekerja di PO Gapuraning Rahayu, yang menurutnya memperlakukan pengemudi dan kondektur dengan baik.
"Menurut saya, GR (Gapuraning Rahayu) tidak ada duanya. Untuk personel tidak dibebankan uang jaminan, tidak ada target, harus setor sekian," jelasnya.
Setiap kali bekerja, ia menerima upah tetap, ditambah bonus jika penumpang lebih dari 35 orang.
Bagi Kiki, menjadi pengemudi bus lebih dari sekadar pekerjaan, ini adalah bentuk pengabdian.
"Misalnya, penumpang dari tempat jauh ingin bersilaturahmi dengan keluarga, pengemudi tetap memiliki andil. Jangan meremehkan profesi pengemudi, pengemudi bisa menjadi penghubung keluarga kita yang jauh," pungkasnya.