AS dan China Sepakati 'Gencatan Senjata' Tarif: Upaya Meredakan Ketegangan Perdagangan Global

Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, memasuki babak baru dengan tercapainya kesepakatan untuk meredakan ketegangan melalui pengurangan tarif impor. Setelah perundingan intensif yang diadakan di Geneva, Swiss, kedua negara sepakat untuk menurunkan tarif secara bertahap selama 90 hari ke depan.

Langkah ini, yang dilaporkan oleh berbagai sumber media, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap defisit perdagangan AS, yang selama ini menjadi perhatian utama. Perang tarif yang berkepanjangan, dipicu oleh kebijakan proteksionis, telah menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan pada sistem keuangan global dan resesi ekonomi.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional, Kevin Hassett, menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan ini menandai awal yang baru dalam hubungan perdagangan AS-China. Keputusan untuk menurunkan tarif secara signifikan, hingga 115 poin persentase, menunjukkan perubahan pendekatan yang lebih konstruktif dari kedua belah pihak. Sebelumnya, embargo perdagangan de facto antara AS dan China telah menciptakan tekanan ekonomi yang dirasakan secara global.

Trump menunjuk Menteri Keuangan, Scott Bessent, dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, sebagai negosiator utama. Pemilihan tokoh-tokoh ini dianggap sebagai langkah serius untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Upaya untuk menjalin kesepakatan dengan negara-negara lain juga mendapatkan momentum, menyusul kesepakatan skala kecil dengan Inggris. Hal ini memberikan preseden bagi negosiasi dengan AS.

Para penasihat Trump melihat tanda-tanda positif dalam pendekatan serius dari kedua belah pihak. Meskipun hasil akhir dari negosiasi ini masih belum pasti, terdapat harapan bahwa kesepakatan ini dapat menghindari konsekuensi ekonomi yang lebih buruk. Seorang senator dari Partai Republik menyatakan bahwa kesepakatan ini memberikan harapan untuk mencapai solusi tanpa menimbulkan bencana ekonomi.

Tekanan dari pasar obligasi, gangguan rantai pasokan, dan peringatan dari para eksekutif di berbagai industri besar, memainkan peran penting dalam perubahan pendekatan. Berdasarkan laporan, AS akan menurunkan bea masuk impor (BMI) terhadap China dari 145% menjadi 30%, sementara China akan mengurangi BMI atas AS dari 125% menjadi 10%. Perubahan ini akan diberlakukan mulai 14 Mei 2025 selama tiga bulan.

Menteri Keuangan Scott Bessent menekankan bahwa kesepakatan ini menciptakan mekanisme untuk perundingan di masa depan. Bagi Trump, perdagangan merupakan faktor kunci dalam berbagai aspek, termasuk potensi perjanjian gencatan senjata antara India dan Pakistan, yang menurutnya dapat ditingkatkan melalui peningkatan arus perdagangan.

Kesepakatan ini memberikan harapan baru untuk meredakan ketegangan perdagangan antara AS dan China, serta potensi dampak positifnya terhadap ekonomi global. Perlu dicatat bahwa pengamatan paling cerdik dalam upaya menganalisis penurunan dramatis hubungan dagang AS-China itu datang dari orang yang mendorong mereka ke tepi jurang pada masalah yang sama sekali tidak terkait tetapi tidak kalah pentingnya.