Jembatan Penghubung Ambruk, Proses Belajar Mengajar di SDN 117 Merangin Dialihkan
Ambruknya jembatan penghubung antar desa di Kecamatan Pamenang Barat, Kabupaten Merangin, Jambi, memaksa pihak Sekolah Dasar Negeri (SDN) 117 untuk mengambil langkah antisipasi. Kegiatan belajar mengajar yang semula dilakukan di Desa Simpang Limbur Merangin, kini dipindahkan ke lokasi sementara di Desa Limbur Merangin.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kondisi jembatan yang memprihatinkan dan mengancam keselamatan para siswa. Kepala Sekolah SDN 117, Abdullah Hadi, menjelaskan bahwa aktivitas belajar mengajar kini dipusatkan di sebuah gedung madrasah yang terletak di desa seberang. Prioritas utama adalah keselamatan anak-anak, sehingga pemindahan lokasi dianggap sebagai solusi terbaik untuk saat ini.
Sebelumnya, viral di media sosial aksi heroik sejumlah guru SDN 117 yang nekat menyeberangi jembatan rusak demi bisa mengajar. Jembatan tersebut mengalami kerusakan parah, dengan lantai jembatan jebol hingga tiga meter. Kondisi ini hanya menyisakan tali sling di kedua sisi jembatan, sementara bagian tengahnya menganga memperlihatkan derasnya arus Sungai Batang Merangin. Walaupun sangat berbahaya, para guru tetap bertekad untuk menjalankan tugasnya. Mereka harus melewati jembatan gantung yang rusak hanya dengan berpegangan pada seutas sling baja. Tanpa adanya pijakan dan pegangan yang memadai, mereka terpaksa bergelantungan di tepi jembatan.
Sungai Batang Merangin memiliki lebar sekitar 100 meter dengan arus yang deras, sehingga sangat berisiko bagi siapa saja yang mencoba menyeberanginya. Jembatan sepanjang 144 meter ini merupakan akses vital bagi warga Desa Limbur Merangin dan Desa Simpang Limbur. Abdullah Hadi mengungkapkan bahwa total siswa SDN 117 berjumlah 80 orang, dengan 60 siswa berdomisili di Desa Limbur Merangin dan 20 siswa lainnya di Desa Simpang Limbur. Pihak sekolah memutuskan untuk memindahkan guru ke lokasi para siswa yang mayoritas. Sementara untuk 20 siswa yang berdomisili di sekitar SDN 117, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan di sana.
Abdullah Hadi juga memberikan apresiasi kepada para guru yang berani menantang bahaya demi menjalankan tugas. Terlebih lagi, saat ini para siswa kelas enam tengah menghadapi ujian. Meskipun perahu telah disiapkan sebagai alternatif penyeberangan, namun saat para guru tiba, belum ada petugas yang berjaga, sehingga mereka terpaksa melewati jembatan yang sedang dalam proses perbaikan.
Abdullah Hadi mengungkapkan kekecewaannya atas lambatnya respons pemerintah terkait perbaikan jembatan. Ia mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan agar jembatan tersebut segera dibangun secara permanen. Jembatan ini tidak hanya penting bagi para pelajar, tetapi juga sebagai akses penghubung menuju beberapa kecamatan dan kabupaten lain, termasuk Kabupaten Tebo. Namun, hingga saat ini, belum ada realisasi pembangunan jembatan permanen. Ia berharap pemerintah Kabupaten Merangin dan Provinsi Jambi memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini. Selama ini, hanya dilakukan pengukuran, namun tidak ada tindak lanjut berupa pembangunan fisik.
Berikut point penting yang dapat disajikan dalam format list:
- Kegiatan belajar mengajar SDN 117 dipindahkan akibat jembatan putus.
- Lokasi sementara di gedung madrasah Desa Limbur Merangin.
- Guru nekat seberangi jembatan rusak demi mengajar.
- Jembatan sepanjang 144 meter penghubung vital dua desa.
- Kepsek kecewa lambatnya respons pemerintah soal perbaikan.