Keluarga Bantah Korban Ledakan Amunisi di Garut Seorang Pemulung: Almarhum Bekerja Membantu TNI

Tragedi ledakan amunisi yang terjadi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, telah menorehkan duka mendalam bagi keluarga korban. Di tengah suasana berduka, keluarga salah satu korban, Rustiwan, merasa perlu meluruskan informasi yang beredar terkait profesi almarhum. Agus, kakak kandung Rustiwan, dengan tegas membantah bahwa adiknya adalah seorang pemulung besi.

"Saya sebagai keluarga tak terima kalau adik saya disebut pemulung besi saat kejadian ledakan. Adik saya sudah 10 tahun kerja ke TNI bantu pemusnahan amunisi," ujar Agus dengan nada sedih saat ditemui di RSUD Pameumpeuk, Garut. Menurutnya, Rustiwan telah lama bekerja membantu TNI dalam proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa. Pekerjaan ini bukan hanya dilakukan di Garut, tetapi juga di berbagai daerah lain seperti Yogyakarta. Hal ini diungkapkan Agus saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunjungi keluarga korban di rumah sakit.

Gubernur Dedi Mulyadi pun memberikan tanggapannya terkait hal ini. Beliau menegaskan bahwa insiden ini adalah kecelakaan kerja, bukan insiden yang melibatkan warga yang sedang mencari rongsokan besi bekas amunisi. "Ini berarti kecelakaan kerja, bukan seperti yang diinformasikan bahwa korban adalah warga yang sedang membawa rongsokan bekas amunisi. Mereka bekerja ternyata membantu TNI," tegas Dedi.

Dedi Mulyadi menambahkan bahwa kecelakaan kerja dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang profesi. Ia mencontohkan kasus kecelakaan yang dialami sopir bus, petani yang terluka akibat alat pertanian, atau pegawai lain yang mengalami insiden saat bekerja. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memberikan perhatian khusus kepada keluarga korban. Santunan sebesar Rp 50 juta diberikan kepada setiap keluarga korban, dan pendidikan anak-anak yang ditinggalkan akan dijamin hingga jenjang perguruan tinggi.

Ledakan yang terjadi saat proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa milik TNI AD ini menelan 13 korban jiwa. Dari jumlah tersebut, 4 di antaranya adalah anggota TNI dan 9 lainnya adalah warga sipil. Ledakan diduga dipicu oleh detonator penghancur yang meledak lebih awal dari perkiraan. Kesembilan warga sipil yang menjadi korban adalah Agus Bin Kasmin, Ipan Bin Obur, Anwar Bin Inon, Iyus Ibing Bin Inon, Iyus Rizal Bin Saepuloh, Toto, Dadang, Rustiwan, dan Endang. Semuanya berasal dari wilayah Cibalong dan Pameumpeuk, Garut.

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Kristomei Sianturi, menduga bahwa jatuhnya korban sipil disebabkan karena warga mendekati lokasi pemusnahan setelah ledakan pertama terjadi. Menurutnya, warga tersebut diduga hendak mengambil serpihan amunisi yang tersisa. Namun, nahas, ledakan susulan terjadi dan mengenai warga yang berada di lokasi tersebut.