Nissan Berencana Pangkas Ribuan Karyawan Global di Tengah Tekanan Finansial

Raksasa otomotif asal Jepang, Nissan Motor Co., Ltd., dikabarkan akan melakukan perampingan organisasi secara signifikan dengan memangkas lebih dari 10.000 posisi karyawan di seluruh dunia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap penurunan penjualan di pasar utama dan proyeksi kerugian finansial yang substansial.

Keputusan ini menambah daftar panjang upaya efisiensi yang telah diumumkan sebelumnya, sehingga total karyawan yang terdampak PHK mencapai sekitar 20.000 orang, atau sekitar 15 persen dari total angkatan kerja global Nissan. Sumber anonim menyebutkan bahwa restrukturisasi ini menjadi krusial dalam upaya perusahaan untuk merampingkan operasional, mengurangi biaya, dan memperkuat neraca keuangan di tengah tantangan ekonomi yang berat. Perusahaan memperkirakan kerugian bersih tahun fiskal yang berakhir Maret 2025 antara 700 miliar hingga 750 miliar yen.

Kerugian besar ini akan menjadi yang terbesar dalam sejarah perusahaan, melampaui kerugian 684 miliar yen yang tercatat pada periode 1999-2000 saat awal kemitraan dengan Renault. Penurunan kinerja Nissan sebagian besar disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk:

  • Keterlambatan dalam mengadopsi tren kendaraan hybrid di pasar Amerika Serikat.
  • Kehilangan keunggulan kompetitif di sektor kendaraan listrik.
  • Penurunan penjualan di pasar otomotif China yang sangat kompetitif.

Menghadapi situasi ini, Nissan berencana untuk meluncurkan sekitar 10 model baru di China dalam beberapa tahun mendatang, sebagai upaya untuk meningkatkan pangsa pasar dan meningkatkan penjualan. CEO Nissan, Ivan Espinosa, saat ini memimpin proses restrukturisasi dan sedang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Sebagai bagian dari upaya restrukturisasi yang lebih luas, Nissan dilaporkan membatalkan beberapa proyek investasi, termasuk pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik senilai 1,1 miliar dolar AS di Pulau Kyushu, Jepang. Selain itu, perusahaan berencana menutup pabrik perakitan di Thailand pada bulan Juni, serta dua lokasi pabrik lain yang lokasinya belum diumumkan secara resmi. Saat ini, pihak Nissan belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.