Delapan Nyawa Melayang dalam Insiden Tenggelamnya Kapal Wisata di Bengkulu, DPD RI Soroti Pengawasan Keselamatan

Tragedi Kapal Wisata di Bengkulu: Delapan Korban Jiwa, Pengawasan Keselamatan Jadi Sorotan

Perairan Malabero, Bengkulu, diguncang duka mendalam menyusul insiden tenggelamnya Kapal Motor (KM) Tiga Putera yang merenggut nyawa delapan orang. Tragedi yang terjadi pada Minggu sore (11/5/2025) ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi sorotan tajam terhadap standar keselamatan transportasi laut di wilayah tersebut.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan B Najamudin, menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa nahas ini. "Atas nama lembaga dan pribadi, kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan," ujarnya dalam keterangan resmi. Sultan menekankan pentingnya memberikan perawatan medis dan psikologis yang memadai bagi para korban selamat, mengingat potensi trauma yang mungkin dialami.

DPD RI menyoroti lemahnya pengawasan terhadap standar keamanan dan kelayakan kapal-kapal wisata yang beroperasi di perairan Indonesia. Sultan mendesak pemerintah, melalui kementerian dan dinas perhubungan terkait, untuk secara rutin melakukan inspeksi dan pengujian terhadap kapal-kapal yang beroperasi, guna memastikan keselamatan penumpang.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati sebelum melakukan perjalanan menggunakan transportasi laut. Pemerintah harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap standar keamanan dan kelayakan kapal-kapal yang beroperasi," tegas Sultan.

Tragedi KM Tiga Putera menambah daftar panjang insiden serupa yang terjadi di perairan Indonesia. Sultan berharap kejadian ini menjadi yang terakhir dan mendorong perbaikan signifikan dalam industri kapal wisata. Menurutnya, desain kapal wisata ke depan harus lebih elegan dan aman, dengan prioritas utama pada keselamatan penumpang.

Kronologi Kejadian

Kapal Tiga Putera mengalami musibah pada Minggu sore (11/5/2025) di perairan Malabero. Diduga kapal mengalami kerusakan mesin secara tiba-tiba sebelum akhirnya dihantam ombak besar dan tenggelam. Upaya penyelamatan segera dilakukan, namun delapan orang penumpang dinyatakan meninggal dunia.