Analisis: Pelonggaran Ketegangan Dagang AS-China, Momentum Emas bagi Indonesia?
Peluang Indonesia di Tengah Redanya Perang Dagang AS-China
Perkembangan positif dalam hubungan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, dengan adanya indikasi pelonggaran ketegangan, membuka peluang strategis bagi Indonesia. Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, melihat ini sebagai momentum yang baik bagi Indonesia untuk mengintensifkan negosiasi tarif dengan AS.
Keyakinan ini didasarkan pada hubungan bilateral yang selama ini terjalin baik antara Indonesia dan AS. Berbeda dengan dinamika yang fluktuatif antara AS dan China, relasi Indonesia-AS cenderung stabil, memberikan landasan yang kokoh untuk perundingan yang konstruktif. Dalam acara PIER Q1 2025 Economic Review di Jakarta, Josua Pardede menyatakan bahwa pemerintah AS dan China saja sudah melunak, mestinya pemerintah AS dengan Indonesia pun juga mestinya bisa lebih melunak lagi. Hal ini mengindikasikan bahwa kesepakatan perdagangan yang lebih menguntungkan bagi Indonesia memiliki potensi untuk terwujud.
Strategi Negosiasi yang Komprehensif
Menurut Josua Pardede, keberhasilan negosiasi AS-China didorong oleh adanya tawaran yang saling menguntungkan dari kedua belah pihak. Pemerintah Indonesia perlu mengadopsi pendekatan serupa, tidak hanya fokus pada keseimbangan neraca perdagangan, tetapi juga menawarkan insentif investasi yang menarik bagi AS. Upaya menarik investasi dari Indonesia ke AS dapat menjadi daya tarik tersendiri dalam proses negosiasi, sehingga proposal yang diajukan sulit untuk ditolak.
Selain itu, pemerintah Indonesia perlu meninjau kembali kebijakan-kebijakan yang menjadi perhatian AS, seperti pelonggaran terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Fleksibilitas dalam kebijakan TKDN dapat menjadi sinyal positif bagi AS dan mempermudah tercapainya kesepakatan.
Pemangkasan Tarif Sementara: Langkah Positif
Sebagai informasi tambahan, AS dan China telah sepakat untuk memangkas tarif impor sementara selama 90 hari. Keputusan ini diambil setelah pertemuan perwakilan kedua negara di Jenewa, Swiss, sebagai upaya meredakan ketegangan perdagangan yang telah berlangsung. Dalam kesepakatan tersebut, produk-produk AS yang masuk ke China akan dikenakan tarif 10% dari sebelumnya 125%, sementara barang-barang dari China ke AS dikenakan tarif 30% dari sebelumnya 145%. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa kedua belah pihak akan menurunkan tarif sebesar 115%.
Langkah ini menjadi indikasi bahwa kedua negara menyadari pentingnya stabilitas perdagangan global dan bersedia untuk berkompromi demi mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Indonesia dapat belajar dari strategi negosiasi yang diterapkan oleh China dan AS, serta memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya dalam perdagangan internasional.