Pasca Keracunan Massal, BGN Hentikan Sementara Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah Bogor

Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menangguhkan sementara implementasi program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan sekolah Bosowa Bina Insani, Bogor. Keputusan ini menyusul insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa setelah mengonsumsi hidangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa penangguhan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan prosedur yang berlaku.

"Kami akan menghentikan sementara program ini di Bosowa Bina Insani untuk melakukan evaluasi mendasar," ujar Dadan dalam konferensi pers. BGN sebelumnya menjadikan SPPG Bosowa Bina Insani sebagai proyek percontohan karena fasilitas kantin yang dianggap memadai dan bersih, serta sistem pengiriman makanan yang efisien kepada siswa. Program ini telah berjalan sejak Januari 2025 dan sebelumnya tidak pernah menimbulkan masalah. Namun, insiden keracunan massal ini mendorong BGN untuk meninjau ulang dan memperketat standar operasional.

Inspeksi mendalam telah dilakukan di SPPG Bosowa Bina Insani. BGN akan meminta pihak SPPG untuk meningkatkan aspek kebersihan secara signifikan, meskipun fasilitas yang ada sudah tergolong baik. Penangguhan layanan akan terus berlanjut hingga SPPG memenuhi standar yang ditetapkan oleh BGN.

BGN juga berencana untuk memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) pengolahan makanan. Hal ini mencakup pemilihan bahan baku yang lebih selektif, mempersingkat waktu pengolahan dan pengiriman makanan. Pengawasan ketat akan diterapkan pada proses pengiriman makanan hingga waktu konsumsi oleh siswa. BGN juga akan melarang siswa membawa pulang makanan dari program MBG untuk menghindari potensi masalah akibat penyimpanan yang tidak tepat.

Dadan juga menanggapi tuduhan mengenai penghematan kualitas bahan baku dalam program MBG. Ia menegaskan bahwa anggaran produksi MBG menggunakan sistem at cost, sehingga tidak ada insentif untuk mengurangi kualitas makanan. BGN berkomitmen untuk menjaga kualitas makanan, dan harga bahan baku yang fluktuatif tidak akan mempengaruhi standar gizi yang ditetapkan. Kekurangan anggaran akan ditambahkan, dan kelebihan dana akan disimpan untuk digunakan di masa mendatang.

Insiden keracunan massal ini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Data terbaru menunjukkan bahwa total korban mencapai 223 siswa dari tingkat TK hingga SMA di 13 sekolah di Kota Bogor. Sebagian besar korban mengalami rawat jalan, sementara beberapa lainnya memerlukan rawat inap di rumah sakit. Dinas Kesehatan Kota Bogor terus melakukan pemantauan dan memberikan penanganan medis kepada para korban.