Kremlin Menilai Rencana Macron Soal Penempatan Senjata Nuklir di Eropa Berpotensi Destabilisasi
Kremlin Merespons Rencana Macron Terkait Penempatan Senjata Nuklir di Eropa
Kremlin menyatakan keprihatinannya atas pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang membuka peluang diskusi mengenai penempatan pesawat tempur bersenjata nuklir di Eropa. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa langkah ini tidak akan meningkatkan keamanan dan stabilitas di Benua Biru.
"Setiap bentuk proliferasi senjata nuklir di Eropa justru akan menimbulkan ketidakpastian dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan regional," ujar Peskov kepada awak media, menanggapi pernyataan Macron yang disiarkan oleh stasiun televisi TF1.
Macron sebelumnya menyatakan kesiapan Prancis untuk berdiskusi dengan negara-negara Eropa lainnya mengenai kemungkinan penempatan pesawat tempur yang dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir di wilayah Eropa, mengikuti model yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS). Ia mencontohkan keberadaan bom AS di pesawat-pesawat yang ditempatkan di Belgia, Jerman, Italia, dan Turki.
"Kami membuka diri untuk memulai pembicaraan mengenai hal ini. Dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, kami akan merumuskan kerangka kerja yang sangat spesifik," kata Macron.
Macron juga menetapkan tiga syarat utama untuk kemungkinan penempatan senjata nuklir tersebut:
- Prancis tidak akan menanggung biaya keamanan negara lain.
- Kepentingan keamanan nasional Prancis tidak boleh dikorbankan.
- Keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Prancis sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Isu penempatan senjata nuklir di Eropa memang bukan hal baru. AS diketahui memiliki sekitar 50 bom nuklir yang disimpan di pangkalan udara Incirlik di Turki, yang merupakan anggota NATO. Diskusi mengenai potensi perubahan dalam kebijakan nuklir di Eropa ini diperkirakan akan terus berlanjut dan memicu perdebatan di antara negara-negara anggota NATO.