Perjuangan Seorang Suami Mengiringi Istri Raih Gelar Doktor di Taiwan dan Membangun Karier di Belanda
Perjuangan Mengiringi Impian
Kisah Dimas Budi Prasetyo dan Imee Ristika, pasangan suami istri yang telah melewati perjalanan panjang dan penuh tantangan demi mewujudkan mimpi mereka, menjadi inspirasi tersendiri. Perjalanan ini dimulai pada tahun 2016, ketika Dimas rela meninggalkan pekerjaan tetapnya di sebuah pabrik semen demi menemani sang istri, Imee, melanjutkan studi doktoral di National Sun Yat-sen University, Taiwan. Keputusan yang tak mudah ini diambil Dimas dengan penuh kesadaran dan komitmen yang luar biasa, mengutamakan impian akademik istrinya di atas kenyamanan finansial pribadi. Lulusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya ini bahkan rela belajar bahasa Mandarin demi mendapatkan visa pelajar dan bisa tinggal di Taiwan bersama Imee yang tengah mengandung anak pertama mereka.
Tantangan dan Pengorbanan
Kehidupan di Taiwan bukanlah tanpa rintangan. Awalnya, Dimas dan Imee mengandalkan tabungan dan beasiswa yang diterima Imee untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Kaohsiung. Setelah beberapa bulan, Dimas mendapatkan pekerjaan di sebuah toko online yang melayani warga negara Indonesia di Taiwan. Kelahiran putri pertama mereka di Juli 2017 menambah warna kehidupan mereka, namun juga menghadirkan tantangan baru. Karena miskomunikasi antara Imee dan pembimbing doktoralnya, Imee sempat terancam dikeluarkan dari program studi. Situasi ini memaksa Dimas dan Imee untuk mengambil keputusan sulit: memisahkan diri dari putri mereka yang masih bayi demi melanjutkan studi Imee, mengingat biaya penitipan anak di Taiwan saat itu sangat tinggi dan di luar jangkauan finansial mereka. Keputusan ini berujung pada masa sulit LDR dengan anak selama beberapa tahun, yang berdampak pada kondisi mental dan kesehatan fisik Dimas yang sempat menderita penyakit hingga menjalani operasi.
Kegigihan Menuju Belanda
Setelah melewati berbagai rintangan dan pengorbanan, Imee akhirnya berhasil menyelesaikan studi doktoralnya pada Juni 2020. Ia kemudian diterima sebagai peneliti postdoctoral di Eindhoven University of Technology (TU Eindhoven), Belanda. Keluarga kecil ini pun memutuskan untuk pindah ke Belanda, namun perjalanan mereka tidak berakhir di sana. Mereka kembali dihadapkan pada tantangan baru, yakni adaptasi di lingkungan baru, kendala bahasa, dan iklim yang berbeda. Dimas sempat menganggur selama beberapa bulan dan kembali mengalami masa-masa sulit secara emosional. Kondisi ini diperparah dengan pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas dan interaksi sosial. Mereka bahkan sempat mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia. Namun, kegigihan dan semangat pantang menyerah kembali membawa mereka pada titik terang. Imee mendapatkan pekerjaan di The Antena Company, sementara Dimas mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik dan juga paruh waktu di supermarket Asia.
Menuju Kehidupan yang Lebih Baik
Sejak pertengahan 2023, berkat kerja keras dan ketekunan mereka, Dimas dan Imee akhirnya mampu membeli rumah di Eindhoven. Anak mereka pun telah beradaptasi dengan baik di sekolah, termasuk sekolah Islam satu-satunya di kota tersebut. Setelah sepuluh tahun merantau, mereka kini merasakan hasil jerih payah mereka. Meskipun memiliki rencana untuk kembali ke Indonesia suatu hari nanti, untuk saat ini, mereka menikmati kehidupan yang telah mereka bangun dengan penuh perjuangan dan pengorbanan di negeri orang.
Kesimpulan
Kisah Dimas dan Imee adalah bukti nyata bahwa dengan komitmen, kerja keras, dan saling mendukung, setiap mimpi dapat terwujud. Perjalanan mereka yang penuh liku dan tantangan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tetap gigih mengejar impian, meskipun harus melewati berbagai rintangan dan pengorbanan.