Bangkit dari Trauma: Mpokgaga Bukukan Pengalaman KDRT dalam Trilogi Amigdala

Mega Arnidya, yang lebih dikenal dengan nama Mpokgaga, menemukan kekuatan dalam menulis untuk memulihkan diri dari pengalaman pahit sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Alih-alih terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu, ia menuangkan perasaannya ke dalam kata-kata, menghasilkan karya yang tak hanya menjadi terapi pribadi, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang.

Mpokgaga telah menerbitkan dua buku yang terinspirasi dari kisah nyata. Buku pertama, "Amigdala: Perjalanan Merepresi Memori", diluncurkan pada April 2020, menandai awal perjalanan kreatifnya. Karya keduanya, "Amigdala: Residu Yang Bersemayam”, dirilis pada tahun 2024. Mpokgaga aktif memperkenalkan karya-karyanya kepada publik tahun ini.

Sejak tahun 2021, Mpokgaga menetap di Ubud, Gianyar. Melalui buku-bukunya, ia berupaya berbagi cerita dari berbagai sudut pandang, termasuk korban dan pelaku kekerasan. Tujuannya adalah untuk membantu pembaca mengidentifikasi tanda-tanda kekerasan, baik verbal maupun fisik, dan mengambil langkah untuk melindungi diri.

"Semoga bisa membantu pembaca maupun calon pembaca untuk bisa mulai belajar mengidentifikasi apabila ada, atau mengalami kekerasan, baik secara verbal maupun fisik," ujarnya.

Mpokgaga menekankan bahwa karyanya terinspirasi oleh kisah nyata. Dengan menuangkan pengalaman pribadinya ke dalam tulisan, ia merasa terbantu dalam proses pemulihan diri.

Proses penulisan buku-buku ini bukanlah hal yang mudah bagi Mpokgaga. Ia harus menghadapi kembali memori menyakitkan dan merasa seolah-olah kembali ke masa lalu. Ketika merasa terlalu berat, ia mengambil waktu istirahat untuk menjernihkan pikiran.

"Step off dulu. Jalan kaki, nyeker. Apa pun itu, harus detach dulu supaya bisa balik waras dan obyektif," jelasnya.

Setelah peluncuran buku keduanya, Mpokgaga menerima banyak tanggapan dari pembaca. Beberapa merasa terpicu oleh bagian-bagian tertentu dalam buku yang membangkitkan memori terpendam. Namun, pada akhirnya, mereka berterima kasih karena telah diingatkan dan termotivasi untuk bangkit kembali.

"Masih sering diomeli pembaca lewat DM/email, karena banyak bagian yang men-trigger memori yang mereka repressed sekian lama. Tapi ujung-ujungnya mereka berterima kasih karena sudah dibantu diingatkan untuk bisa kembali menata diri," tuturnya.

Buku "Amigdala: Residu Yang Bersemayam” berfokus pada tokoh utama, Ishtar Mahendra Sumoprawiro, dan mengeksplorasi residu atau dampak yang tersisa setelah mengalami peristiwa traumatis. Seperti buku sebelumnya, Mpokgaga menggali referensi dari pengalaman pribadi dan orang-orang terdekat untuk mengembangkan premis cerita.

Berikut adalah poin-poin penting yang diangkat dalam berita ini:

  • Mpokgaga menggunakan menulis sebagai cara untuk memulihkan diri dari KDRT.
  • Ia telah menerbitkan dua buku dalam trilogi Amigdala.
  • Buku-bukunya terinspirasi dari kisah nyata dan bertujuan untuk membantu pembaca mengidentifikasi kekerasan.
  • Proses penulisan tidak mudah dan membutuhkan waktu istirahat.
  • Mpokgaga menerima banyak tanggapan positif dari pembaca yang merasa terbantu.