Investor Bidik Sektor Unggulan di Tengah Penurunan Pendanaan Startup Asia

Gelombang pendanaan startup di Asia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini, menurut pengamat industri, justru menghadirkan peluang baru bagi para investor. Penurunan valuasi startup memungkinkan investor, terutama strategic investor, untuk memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam bernegosiasi dengan calon investee.

Bayu Seto, Partner Living Lab Ventures, menjelaskan bahwa gejolak ekonomi global, yang dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal di era Presiden Donald Trump, membuka pintu bagi pasar berkembang seperti Indonesia. Sektor-sektor seperti manufaktur, protein alternatif, agritech, healthcare, dan clean tech diprediksi akan menjadi primadona investasi.

Menariknya, di tengah penurunan pendanaan ini, perusahaan modal ventura (VC) justru semakin agresif dalam berinvestasi. Di Jepang, hampir semua perusahaan besar, bahkan hingga tier kedua, telah memiliki Corporate Venture Capital (CVC). Model CVC ini dinilai ideal untuk investasi di Indonesia karena tidak hanya berfokus pada aspek finansial, tetapi juga pada strategi kolaborasi.

Di Indonesia sendiri, beberapa sektor masih sangat menarik bagi pendanaan, baik dari VC maupun CVC. Sektor-sektor tersebut meliputi fintech, e-commerce, software, green tech, serta logistik dan rantai pasok. Living Lab Ventures sendiri telah menyalurkan pendanaan senilai ratusan juta dolar AS hingga saat ini.