Pemkot Surabaya Terapkan Sanksi Unik untuk Atasi Perilaku Tawuran di Bulan Ramadhan
Pemkot Surabaya Terapkan Sanksi Unik untuk Atasi Perilaku Tawuran di Bulan Ramadhan
Maraknya aksi tawuran sarung di Surabaya selama bulan Ramadhan 2025 mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menerapkan sanksi alternatif yang bertujuan mendidik dan memberikan efek jera bagi para pelakunya. Berbeda dari sanksi konvensional, Pemkot Surabaya memilih pendekatan yang lebih humanis dan reflektif. Langkah ini diambil setelah berbagai upaya preventif seperti patroli gabungan Satpol PP, TNI, dan Polri, masih belum sepenuhnya mampu mencegah aksi tersebut. Para remaja yang terlibat tawuran sarung kerap kali menyesuaikan waktu aksinya untuk menghindari razia yang dilakukan aparat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memaparkan bahwa sanksi yang diterapkan tidak sekadar hukuman, melainkan juga proses pembelajaran. Anak-anak yang tertangkap basah akan dilibatkan dalam kegiatan sosial di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih. Mereka akan diberikan tugas untuk membantu merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tinggal di sana, seperti memandikan dan membersihkan kamar mereka. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab sosial pada para pelakunya. Selain itu, sebuah pendekatan reflektif juga akan diterapkan dengan membawa para remaja tersebut mengunjungi tempat pemakaman umum (TPU). Kunjungan ini diharapkan mampu memberikan refleksi diri dan kesadaran akan arti kehidupan, serta mengingatkan mereka akan konsekuensi tindakan mereka terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, Pemkot Surabaya berharap para remaja dapat merenungkan potensi kehilangan dan tanggung jawab dalam hidup.
"Sanksi ini bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyadarkan mereka," ujar Eri Cahyadi dalam jumpa pers di Balai Kota Surabaya pada Minggu, 9 Maret 2025. "Memarahi saja tidak cukup. Kita butuh pendekatan yang lebih efektif untuk membangun karakter mereka dan mencegah terulangnya kejadian serupa." Pemkot Surabaya menekankan pentingnya peran serta orang tua dalam mengawasi dan membimbing anak-anak mereka. Eri Cahyadi menghimbau para orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anaknya, khususnya selama bulan Ramadhan, agar tidak terjerat dalam kegiatan yang negatif dan merugikan. Partisipasi masyarakat sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif, sehingga upaya pemerintah tidak akan sia-sia.
Keberhasilan program ini, menurut Pemkot, sangat bergantung pada kerjasama antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya berharap langkah ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadapi permasalahan serupa. Tidak hanya berupaya mencegah tawuran, tetapi juga membangun karakter dan moral generasi muda. Pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan pengembangan program ini agar lebih efektif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai di Kota Surabaya. Semoga upaya ini dapat menciptakan efek jera dan mengurangi angka tawuran di masa mendatang.
Langkah-langkah yang diterapkan Pemkot Surabaya untuk mengatasi tawuran sarung:
- Patroli gabungan Satpol PP, TNI, dan Polri.
- Sanksi perawatan ODGJ di Liponsos Keputih.
- Kunjungan ke tempat pemakaman umum (TPU).
- Imbauan kepada orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anaknya.