Optimalisasi Energi Panas Bumi Indonesia Terkendala Tantangan Investasi dan Regulasi

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar, menempati urutan kedua terbesar di dunia. Sayangnya, pemanfaatan potensi ini masih jauh dari optimal, baru mencapai sekitar 12 persen dari total potensi yang ada.

Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Julfi Hadi, menyoroti perlunya inovasi dan terobosan signifikan untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) yang berkelanjutan. Dalam acara Media Gathering The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025, Julfi menekankan bahwa Indonesia perlu mengambil langkah-langkah "beyond the box" untuk memaksimalkan potensi geotermal yang dimilikinya.

Salah satu kendala utama yang menghambat pengembangan energi panas bumi adalah tingginya risiko pada tahap eksplorasi. Julfi mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen proyek panas bumi terhenti karena ketidaksesuaian antara tarif listrik yang ditetapkan dengan besarnya risiko yang harus ditanggung selama eksplorasi. Para pelaku industri kini tengah berupaya untuk menganalisis dan mengelola risiko eksplorasi dengan lebih baik.

Selain risiko eksplorasi, biaya investasi atau capital expenditure (capex) juga menjadi tantangan signifikan. Untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 1 GW, dibutuhkan investasi sekitar 2,7 miliar dollar AS. Julfi menekankan pentingnya menekan capex agar energi panas bumi menjadi lebih kompetitif dan menarik bagi investor. Upaya untuk mengurangi biaya investasi ini sangat krusial untuk meningkatkan daya saing PLTP dibandingkan dengan sumber energi lainnya.

Insentif juga memainkan peran penting dalam pengembangan energi panas bumi. Industri ini sangat bergantung pada dukungan insentif fiskal dan suku bunga rendah untuk mendanai proyek-proyek baru. Julfi menjelaskan bahwa karena industri panas bumi sangat terkait dengan bisnis dan hanya memiliki satu off-taker, insentif menjadi faktor yang sangat krusial untuk kelangsungan dan pertumbuhan sektor ini.

Julfi menegaskan bahwa pengembangan energi panas bumi memerlukan kolaborasi yang erat antara semua pihak terkait, termasuk pelaku usaha, asosiasi, pemerintah, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kolaborasi dengan pemangku kepentingan utama, seperti PLN dan pemerintah, adalah kunci untuk mewujudkan potensi penuh energi panas bumi Indonesia.

Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia:

  • Risiko Eksplorasi: Pengelolaan risiko eksplorasi yang lebih baik sangat penting untuk menarik investor dan memastikan keberlanjutan proyek.
  • Biaya Investasi (Capex): Menekan biaya investasi akan membuat energi panas bumi lebih kompetitif dan menarik.
  • Insentif: Dukungan insentif fiskal dan suku bunga rendah sangat dibutuhkan untuk mendanai proyek-proyek panas bumi.
  • Kolaborasi: Kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi, pemerintah, dan BUMN adalah kunci untuk keberhasilan pengembangan energi panas bumi.

Dengan mengatasi tantangan-tantangan ini dan mendorong kolaborasi yang efektif, Indonesia dapat memaksimalkan potensi energi panas buminya dan berkontribusi pada transisi energi yang berkelanjutan.