IHSG Sentuh 7.200, Rupiah Menguat di Tengah Pasar Asia yang Bervariasi
Optimisme Pasar: IHSG Menguat di Atas 7.200, Rupiah Ikuti Arus Positif
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang solid pada perdagangan Jumat (23/5/2025), berhasil menembus level psikologis 7.200 dan ditutup di posisi 7.214,16. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif di pasar modal Indonesia, didorong oleh penguatan beberapa saham unggulan.
Peningkatan IHSG sebesar 0,66 persen atau 47,18 poin ini diwarnai dengan aktivitas perdagangan yang cukup tinggi. Sebanyak 280 saham berhasil mencatatkan kenaikan, sementara 315 saham mengalami penurunan, dan sisanya 211 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 11,93 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 16,58 miliar saham.
Sektor Tambang dan Konsumer Mendominasi Penguatan
Beberapa saham dari sektor pertambangan dan konsumer menjadi motor penggerak utama kenaikan IHSG. Saham Aneka Tambang (ANTM) memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 5,74 persen, mencapai level Rp 3.130. Diikuti oleh Barito Pacific (BRPT) yang melonjak 6,94 persen ke level Rp 1.155, dan Vale Indonesia (INCO) yang naik 4,12 persen ke level Rp 3.540.
Namun, tidak semua saham mencatatkan kinerja positif. Saham Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pemberat indeks dengan penurunan sebesar 3,93 persen ke level Rp 2.690. Selain itu, Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) juga mengalami penurunan sebesar 3,79 persen ke level Rp 1.650, serta Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) yang turun 3,36 persen ke level Rp 574.
Rupiah Perkasa di Tengah Ketidakpastian Global
Selain performa positif IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga menunjukkan tren penguatan. Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah ditutup pada level Rp 16.217,5 per dollar AS, menguat sebesar 0,67 persen atau 110 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini juga tercermin pada kurs tengah Jisdor Bank Indonesia yang mencatat rupiah di level Rp 16.289 per dollar AS, lebih baik dari hari sebelumnya.
Kondisi Pasar Regional Bervariasi
Sementara itu, bursa saham regional Asia menunjukkan kinerja yang bervariasi. Indeks Strait Times Singapura mengalami penurunan tipis sebesar 0,01 persen, dan Shanghai Composite Tiongkok turun 0,94 persen. Di sisi lain, Nikkei 225 Jepang berhasil naik 0,47 persen, dan Hang Seng Hong Kong juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,24 persen.
Kondisi pasar regional yang bervariasi ini menunjukkan adanya ketidakpastian global yang masih membayangi. Namun, pasar Indonesia mampu menunjukkan resiliensinya dengan penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah. Hal ini memberikan sinyal positif bagi prospek ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang ada.