Stroke pada Usia Muda: Kelainan Genetik Jadi Faktor Pemicu Selain Gaya Hidup Tidak Sehat

Kasus stroke tidak selalu didominasi oleh faktor risiko klasik seperti gaya hidup yang kurang sehat dan riwayat penyakit penyerta. Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), dr. Adin Nulkhasanah Sp.S, MARS., mengungkapkan bahwa kelainan genetik dapat menjadi pemicu stroke pada usia muda, bahkan pada rentang usia 20 hingga 30 tahun atau lebih muda lagi.

Salah satu contohnya adalah kondisi genetik yang dikenal sebagai moya-moya. Moya-moya merupakan kelainan yang mempengaruhi pembuluh darah di otak, terutama arteri karotis interna. Arteri ini dapat mengalami penyempitan atau bahkan tersumbat, yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke otak. Sebagai kompensasi, tubuh membentuk pembuluh darah kecil baru di sekitar area yang tersumbat. Pada pemeriksaan angiogram, pembuluh darah ini terlihat seperti "kepulan asap," yang menjadi asal-usul nama penyakit ini, moya-moya, yang berarti "kepulan asap" dalam bahasa Jepang.

RS PON mencatat telah menangani sekitar 70 kasus moya-moya dalam setahun. Meskipun relatif jarang terjadi, dr. Adin meyakini bahwa insiden kasus ini jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan secara resmi. Data dari berbagai negara, seperti Jepang, menunjukkan angka 0,5 kasus per 100 ribu penduduk.

"Data yang kami miliki kurang lebih sama dengan negara lain, tetapi pendataan resmi belum tersedia. Kami berupaya untuk melakukan pendataan yang lebih akurat dalam 5 tahun ke depan," ujar dr. Adin saat ditemui di RS PON Cawang, Jakarta Timur, pada Sabtu (24/5/2025).

Penyebab pasti moya-moya yang mengakibatkan stroke pada usia muda, termasuk pada anak-anak di bawah usia 15 tahun, masih belum diketahui. Namun, individu dengan riwayat keluarga yang mengidap moya-moya disarankan untuk melakukan pemeriksaan dini.

Pemeriksaan yang disarankan meliputi:

  • Brain check-up
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging)
  • MRA (Magnetic Resonance Angiography)
  • CT Angio (Computed Tomography Angiography)

Bagi pasien yang memiliki indikasi medis sebelumnya, pemeriksaan dapat dilakukan secara gratis di RS PON dengan menggunakan BPJS Kesehatan.

"Saya merasa rajin berolahraga, tidak memiliki diabetes, tidak memiliki hipertensi, rutin kontrol kesehatan check up, tapi tiba-tiba terserang stroke," tutur dr. Adin, menekankan pentingnya pemeriksaan yang komprehensif.

"Oleh karena itu, check-up yang dilakukan tidak hanya medical check-up biasa, tetapi juga brain check-up untuk memantau kondisi pembuluh darah di otak," pungkasnya.