Studi Ungkap: Subsidi Sektor Strategis Picu Kerusakan Lingkungan Global
Sebuah studi dari Institute of Environmental Science and Technology at the Universitat Autònoma de Barcelona (ICTA-UAB) menyoroti dampak negatif subsidi di enam sektor ekonomi utama terhadap lingkungan global. Studi ini menemukan bahwa subsidi yang dialokasikan untuk sektor-sektor yang dianggap strategis seperti pertanian, bahan bakar fosil, kehutanan, infrastruktur, perikanan dan budidaya perairan, serta pertambangan, justru berkontribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan.
Penelitian ini menganalisis data dari publikasi ilmiah, laporan lembaga resmi, dan anggaran negara untuk mengestimasi besaran subsidi yang diterima oleh keenam sektor tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa subsidi yang diterima berkisar antara 1,7 triliun hingga 3,2 triliun dollar AS per tahun. Ironisnya, kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sektor-sektor ini diperkirakan jauh lebih besar, mencapai 10,5 triliun hingga 22,5 triliun dollar AS per tahun. Kerusakan ini mencakup berbagai aspek, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati, polusi air dan udara, serta perubahan iklim.
Dampak Subsidi di Berbagai Sektor
- Bahan Bakar Fosil: Pada tahun 2022, sektor bahan bakar fosil menerima subsidi global sebesar 7 triliun dollar AS. Penghapusan subsidi ini berpotensi mengurangi emisi karbon global sebesar 43 persen dan mencegah 1,6 juta kematian dini setiap tahun akibat polusi udara.
- Kehutanan: Sektor kehutanan menerima subsidi sekitar 175 miliar dollar AS pada tahun 2024. Namun, deforestasi mencapai 6,37 juta hektare pada tahun 2023, menghambat upaya pencapaian target iklim global. Subsidi ini seringkali mendukung praktik penebangan hutan yang tidak berkelanjutan.
- Infrastruktur: Subsidi global untuk infrastruktur mencapai 2,25 triliun dollar AS. Pembangunan jalan dan sistem irigasi seringkali menyebabkan hilangnya habitat alami dan penggunaan air yang berlebihan.
- Perikanan dan Budidaya Perairan: Sektor ini menerima subsidi sekitar 55 miliar dollar AS pada tahun 2023. Sebagian besar subsidi mendukung praktik penangkapan ikan berlebihan dan ilegal, mengancam keanekaragaman hayati laut.
- Pertambangan: Sektor pertambangan menerima subsidi sekitar 40 miliar dollar AS. Lebih dari 80 persen kegiatan pertambangan logam dilakukan di wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan.
Urgensi Transparansi Subsidi
Victoria Reyes-García, pemimpin tim penelitian, menekankan perlunya transparansi dalam pemberian subsidi. Menurutnya, saat ini tidak ada sistem yang memantau secara komprehensif berapa banyak subsidi yang diberikan, kepada industri mana, dan untuk mendukung aktivitas apa. Kurangnya informasi ini mempersulit upaya untuk mengukur dan mengelola dampak lingkungan dari subsidi.
Studi ini menyerukan transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Hal ini tidak berarti menghilangkan subsidi secara serta merta, tetapi lebih kepada mengalihkan subsidi ke arah praktik yang lebih ramah lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan transparansi yang lebih besar dan pengawasan yang lebih ketat, subsidi dapat menjadi alat yang efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan melindungi lingkungan global.