Tragedi di Sungai Air Hitam Laut: Anak Hilang Diduga Diserang Buaya, Tim SAR Diterjunkan
Kabar duka menyelimuti Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, setelah seorang anak dilaporkan hilang dan diduga kuat menjadi korban serangan buaya pada Sabtu (24/5/2025). Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 15.15 WIB di aliran sungai yang membelah desa tersebut.
Informasi awal yang beredar menyebutkan bahwa anak tersebut diterkam buaya saat bermain di tepi sungai. Warga setempat yang menyaksikan kejadian itu langsung berupaya melakukan pengejaran terhadap hewan reptil tersebut, namun upaya mereka belum membuahkan hasil. Sebuah video yang beredar luas di media sosial menunjukkan seekor buaya berenang di sungai dengan air berwarna gelap, tampak mencengkeram sesuatu yang diduga adalah tubuh korban. Keadaan ini memicu kepanikan dan kesedihan mendalam di kalangan masyarakat setempat.
Merespon laporan kejadian ini, Basarnas Jambi segera menerjunkan tim penyelamat ke lokasi kejadian. Humas Basarnas Jambi, Lutfi Mulyawan, mengkonfirmasi bahwa tim SAR telah bergerak menuju Desa Air Hitam Laut untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Pihaknya berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah, untuk memaksimalkan upaya pencarian korban.
"Benar, kami telah menerima laporan terkait kejadian ini dan tim Basarnas sudah menuju lokasi," ujar Lutfi Mulyawan melalui pesan singkat.
Saat ini, fokus utama adalah menemukan korban secepat mungkin. Tim SAR akan melakukan penyisiran di sepanjang sungai dan area sekitar lokasi kejadian dengan harapan dapat menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan korban. Masyarakat setempat juga turut serta dalam upaya pencarian dengan menyisir wilayah daratan di sekitar sungai.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai untuk selalu waspada terhadap keberadaan buaya. Pihak berwenang mengimbau agar masyarakat tidak beraktivitas di sungai, terutama pada waktu-waktu rawan seperti saat senja atau malam hari, guna menghindari potensi serangan buaya. Kejadian ini juga menyoroti perlunya upaya konservasi dan pengelolaan habitat buaya secara berkelanjutan untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.